52 Persen SMK Laksanakan Pembelajaran Teaching Factory

Ilustrasi SMK (foto by Ruang Guru)
Ilustrasi SMK (foto by Ruang Guru)

HALONUSA.COM – Pada tahun 2021, jumlah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang melaksanakan model pembelajaran teaching factory mengalami peningkatan sebesar tujuh persen menjadi 52 persen dibanding pada tahun 2020.

Data tersebut berdasarkan hasil survei penguatan pendidikan vokasi yang dilakukan oleh lembaga survei Indikator Politik Indonesia pada akhir tahun 2021.

Pembelajaran teaching factory adalah model pembelajaran di SMK berbasis produksi/jasa yang mengacu pada standar dan prosedur yang berlaku di industri dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri.

Bacaan Lainnya

Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Wikan Sakarinto, mengatakan peningkatan tersebut menjadi semangat bagi para pengajar SMK dalam menerapkan program Merdeka Belajar – SMK Pusat Keunggulan dan Merdeka Belajar Vokasi.

“Dari 2019 hingga 2021, terdapat tren peningkatan BMW (bekerja, melanjutkan studi, dan wirausaha) cukup baik. Penerapan teaching factory di SMK juga meningkat. Ini sangat baik karena teaching factory merupakan level yang spesial yang mendukung link and match,” katanya dalam Silaturahmi Merdeka Belajar secara daring, pada Kamis (13/01/2022).

Selain itu, lanjutnya, jumlah praktisi industri yang mengajar di SMK sebanyak 50 jam per semester juga meningkat sebesar 20 hingga 40 persen.

“Program SMK PK bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang terserap di dunia kerja atau menjadi wirausaha melalui keselarasan pendidikan vokasi yang mendalam dan menyeluruh dengan dunia kerja,” lanjutnya.

Menurutnya, Sekolah yang terpilih dalam program ini diharapkan menjadi rujukan serta melakukan pengimbasan untuk mendorong peningkatan kualitas dan kinerja SMK di sekitarnya.

Pos terkait