Aksi Teror KKB Tidak Manusiawi, Pdt. Joop Suebu Dukung Penegakan Hukum

  • Whatsapp
Pdt. Joop Suebu
Pdt. Joop Suebu

HALONUSA.COM – Penegakan hukum serta pemberantasan terhadap aksi sekelompok orang mengatasnamakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua, yang kini mengafiliasi diri sebagai Kelompok Separatis Teroris (KST). Pengurus Persekutuan Gereja-Gereja Jayawijaya (PGGJ) mendukung apa yang telah ditegaskan pemerintah Indonesia dalam menangani aksi kekerasan yang dilakukan oleh TPNPB-OPM.

Hal itu dikatakan Pdt. Joop Suebu, yang merupakan Pengurus Persekutuan Gereja-Gereja Jayawijaya (PGGJ). Ini sebagai bentuk dukungan penuh terhadap aparat dalam menegakkan hukum terhadap para terduga pelaku aksi kekerasan KKB hingga merenggut banyak korban.

“Saya selaku pribadi dan mewakili Pengurus PGGJ Papua mengutuk keras aksi kekerasan yang terjadi di Papua belakangan ini, hingga merenggut korban jiwa baik dari personil TNI, Polri dan warga sipil,” ujar Pdt. Joop kepada Halonusa.com, Jumat (20/5/2021).

Baca juga: Dua Prajurit TNI Pengamanan Daerah Rawan Gugur setelah Hujan Peluru KKB Papua

Pdt. Joop Suebu juga mengharapkan tindakan nyata penegakan hukum ini, dan meminta agar aparat keamanan dapat berlaku adil. Bahkan termasuk dalam menegakan hukum terhadap pihak-pihak yang selama ini tidak transparan terhadap pengelolaan dana Otsus Papua.

“Penegakan hukum dilakukan menyeluruh, bukan hanya terhadap tindakan kekerasan dilakukan KKB. Namun kepada pemerintah daerah yang selama ini tidak transparan dalam pengelolaan dana Otsus Papua,” kata Pdt. Joop Suebu.

Baca juga: KKB Serang Pesawat Misionaris di Papua, Tokoh Masyarakat:: Khawatir Bagian Seperatisme

Dukungan terhadap pemerintah menegakkan hukum terhadap KKB muncul, pasca pemerintah Indonesia secara tegas menetapkan TPNPB-OPM atau disebut Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua sebagai Kelompok Separatis Teroris (KST).

Hal ini didasari atas teror secara masif dilakukan KST yang melanggar UU No. 5 Tahun 2018. Yakni terorisme adalah perbuatan yang menggunakan kekerasan atau ancaman kekerasan yang menimbulkan suasana teror atau rasa takut secara meluas. Yang dapat menimbulkan korban yang bersifat massal, dan/atau menimbulkan kerusakan atau kehancuran terhadap objek vital yang strategis, lingkungan hidup, fasilitas publik, atau fasilitas internasional dengan motif ideologi, politik, atau gangguan keamanan.

Baca juga: KKB Bakar Pesawat Misionaris di Papua, Franz: Dewan Gereja Jangan Bungkam

Tindakan aksi kekerasan di Tanah Papua tidak hanya perusakan hingga menghilangkan nyawa manusia. Menurut catatan yang diperoleh, terhitung Januari hingga April 2021, KST di Papua telah melakukan 10 aksi pembunuhan dan perusakan fasilitas publik di Papua.

Mulai dari pembunuhan guru, pelajar, hingga tukang ojek. Kemudian terlibat perusakan dan pembakaran terhadap sekolah, helikopter milik PT. Arsa Air hingga rumah kepala suku dan guru di Beoga.

Ini merupakan catatan tambahan dari peristiwa yang tercatat di 2020, dimana telah melakukan 46 aksi kekerasan.

Baca juga: Lion Air Membuka Rute Manado-Timika Papua Senin Mendatang

Kemudian di 2018, KST membantai 31 pekerja sipil yang sedang melakukan pembangunan jalan Trans Papua. Adapun di 2017, KST melakukan penyanderaan terhadap 1.300 warga sipil di Kampung Kimbely dan Kampung Banti, Kabupaten Mimika. Pemerintah Indonesia pun menilai perbuatan KKB tidak dapat ditolerir dalam bentuk apa pun dan dimana pun, terlebih dengan penggunaan senjata yang merenggut korban jiwa.

Pemerintah melalui Kementerian Politik Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam) menyatakan bahwa aksi kekerasan yang dilakukan oleh KKB di Papua adalah gerakan atau aksi Terorisme, seperti yang termaktub dalam UU No 5 Tahun 2018. (*)

Pos terkait