Ancaman Harimau Bonita di Rimba Riau: Biarlah Tak ke Sekolah daripada Nyawa Melayang

Suasana Dusun Sinar Danau, Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Indragiri Hilir, Riau, pada Minggu (8/4/2018) lalu. | Foto: Saridal Maijar
Suasana Dusun Sinar Danau, Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Indragiri Hilir, Riau, pada Minggu (8/4/2018) lalu. | Foto: Saridal Maijar

HALONUSA.COM – Bonita. Itulah nama harimau betina yang sudah menewaskan dua warga. Tiga bulan lebih harimau ini diburu, tak kunjung juga tertangkap.

Si raja rimba ini masih saja berkeliaran. Rasa cemas terus menghantui. Para orangtua, tak melepaskan anaknya jauh dari rumah. Biarlah siswa tak ke sekolah, daripada nyawa melayang.

Pada Ahad (8/4/2018) lalu, kami mendatangi Dusun Sinar Danau, Desa Tanjung Simpang, Kecamatan Pelangiran, Indragiri Hilir. Lokasi ini cukup sulit untuk ditempuh. Melewati jalan tanah yang berlumpur dalam perkebunan sawit, lalu menyusuri sungai gambut.

Bacaan Lainnya

Baca juga: Kisah Pilu Ulah Keganasan Harimau Bonita di Riau, Warga Dilanda Trauma

Menuju dusun itu, harus melewati perkebunan PT Tabung Haji Indo Plantation (THIP). Kalau dari Desa Pulau Muda, ada sekitar tiga jam untuk sampai ke dusun ini.

Perjalanan yang bisa ditempuh melalui darat, sekitar dua jam. Ujung jalan darat terakhir yang bisa ditempuh dengan kendaraan, berada di blok 29 kebun itu.

Hingga akhir jalan tanah ini, hanya bisa dengan mobil. Kalaupun dengan sepeda motor, akan berbahaya. Biasanya, ada ojek dari Desa Pulau Muda ke blok 29.

Tapi sejak kemunculan Bonita, tak ada lagi yang berani menjual jasa ini. Takut mereka melintas di perkebunan sawit itu. Tak mau jadi santapan harimau.

“Biasanya ada. Dulu (sebelum warga diterkam harimau), ongkosnya Rp200 ribu per orang. Sekarang, kalaupun ditawarkan Rp400 ribu per orang, tak akan ada yang berani. Sama saja mengantarkan nyawa ke sana,” kata Sahar (60), salah seorang warga Desa Pulau Muda.

Di sepanjang blok 29 itu, memang terlihat beberapa papan peringatan yang bertuliskan “kawasan perlintasan harimau sumatera”. Ini dipasang oleh tim dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau.

“Orang sini sering lihat harimau itu mondar-mandir di jalan ini (blok 29, red). Kadang kami teriaki bersama-sama, biar menjauh,” kata Andre (45), salah seorang warga di wilayah itu.

Hingga ujung jalan darat ini, perjalananan dilanjutkan dengan perahu mesin yang dinamai getek. Menyusuri sungai alam gambut.

Pos terkait