Asal Usul Suku Koto yang Tidak Dimakan Buaya di Minangkabau

Suku Koto di Minangkabau
Suku Koto di Minangkabau

Anehnya, dua orang konco palangkin (teman akrab) saya yang juga sama-sama bersuku Koto, Hendro (32) dan Handri (32), mereka juga pernah mendapat cerita buaya dan suku Koto ini dari orangtuanya, artinya, tidak mungkin para orangtua berbohong tentang keistimewaan suku ini.

Di Minangkabau, berbicara sejarah, seni, budaya dan cerita rakyat, memang kental dan erat kaitanya dengan ajaran agama Islam. Adat basandi sarak sarak basandi kitabullah (ABSSBK), secara ringkas semua-semua maslah dirunut kepada kitabullah atau kitab suci Al-Quran. ABSSBK merupakan falsafah hidup orang Minangkabau.

Jika dikaitkan cerita ini dengan budaya orang minang yang memang dekat dengan ajaran agama, jelas tersirat pesan moril untuk supaya hidup sesuai tuntunan agama.

Bacaan Lainnya

Jika manusia ciptaan Tuhan yang paling sempurna, hidup sesuai ajaran dan perintah, maka makhluk lain akan semakin tunduk dan hormat. Tidak terkecuali pada binatang, pasti binatang akan tunduk juga sesuai kodratnya. Poin pentingnya, buaya pasti tidak akan memangsa manusia yang hidup sesuai tuntunan agama.

Belum ada literatur atau ulasan resmi tentang cerita suku Koto dan buaya. Namun, jika memang memiliki makna secara tersirat dan tersurat.

Pos terkait