Audy Kembali untuk Milenial Manang

  • Whatsapp
audy-joinaldy-wakil-gubernur-sumbar-kariadil-harefa-halonusa-
Audy Joinaldy didampingi Fitria Amalia Umar, istri yang selalu setia dan memberikan semangat atas pijakan langkah yang diambil oleh suaminya. Foto ini diambil Kamis 25 Februari 2021, tepat pada saat agenda pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Barat periode 2021-2024 di Istana Negara, Jakarta. Source: dokumen pribadi Audy Joinaldy | Halonusa.com

Keinginan menjadi pemimpin di suatu negara seperti menjadi presiden dan kepala daerah di suatu provinsi, baik itu buruh, rakyat miskin kota serta mahasiswa kaum intelektual merupakan tirai mimpi diidamkan.

Tua, muda, miskin dan kaya bukan suatu kebetulan ketika tertauliah menjadi pemimpin. Kata pemimpin terkadang melekat dari pengusaha seantero dunia, sebut saja Petro Poroshenko, menteri luar negeri Ukraina 2009-2010 lalu menjadi presiden.

Silvio Berlusconi, pengusaha penganan menjadi menteri Italia selama empat periode. Rafiq Hariri, pengusaha real estate, konstruksi dan media telekomunikasi, pernah menjabat perdana menteri Libanon.

Sebastian Pinera, pengusaha farmasi menjabat presiden Chili 2010-2014, termasuk Audy Joinaldy, pengusaha bidang pertanian, pertambangan dan manajemen bisnis, sah sebagai Wakil Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) masa bakti 2021-2024, setelah Presiden Joko Widodo mentauliah dirinya bersama Mahyeldi, Gubernur Sumatera Barat di Istana Negara, Kamis (25/2/2021) sebagai pemimpin daerah Provinsi Sumatera Barat.

Ya, sebab dibalik tirai mimpi menjadi pemimpin dalam demokrasi, politik merupakan panggung seni membangun kepercayaan rakyat, tulis Putra Tanhar, Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Padang menukil dari pemimpin ideal, 2014.

Ini kemudian dibangun Audy demikian ia dikenal khalayak, putra tertua pasangan Joinerri Kahar dari Padang dan Desmilia dari Solok nan menyandang gala Datuak Rajo Pasisia Alam, telah meniatkan membangun Minangkabau dalam keadaan apa pun secara khusus, dan pemerintahan Sumatera Barat secara umumnya melalui keahlian yang ia miliki setelah memenangkan kontestasi demokrasi.

Pemuda kelahiran 16 Mei 1983 piawai bercakap depan publik, disamping dirinya menyandang segelintir anugerah gelar pendidikan dari berbagai keahlian.

Bahkan suami dari dr. Fitria Amalia Umar, Sp.KK, M.Kes, keturunan Arab, sangat bersyukur atas raihan sederet gelar itu. Kalau tidak salah ia alumnus Sarjana Peternakan di Institut Pertanian Bogor (IPB), 2005 dan Master of Science di Wageningen Netherlands Major Food Quality Management Minor Animal Nutrition, 2007. Magister Manajemen di Universitas Hasanuddin Makassar, 2011.

Kemudian gelar Insinyur dari Universitas Gajah Mada (UGM), 2019, gelar IPM dari Persatuan Insinyur Indonesia (PII) serta gelar ASEAN. Eng dari Asean Federation Engineering Association (AFEO) pada tahun yang sama.

Dr (cand). Ir. Audy Joinaldy, S.Pt, M.Sc., M.M, IPM, ASEAN. Eng, demikian nama disertai gelar pemuda asal Minangkabau itu kalau tidak salah.

Memintasi perkuliahan ia bekerja pada perusahaan multinasional termasuk perusahaan asing, sampai Korea. Hingga kemudian hari dan hari ini terjun menjadi pengusaha setelah membangun mitra dan membentuk jejaring kuat skala Internasional.

Pebisnis muda ini pun tengah melanjutkan pendidikan doktor di Sekolah Bisnis Institut Pertanian Bogor (IPB), dan diamanatkan sebagai Ketua Himpunan Alumni Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor (Hanter-IPB), 2018-2022. Termasuk saat ini mengisi posisi komisaris dan direktur di beberapa perusahaan bidang peternakan, perkebunan dan pertambangan.

Posisi itu tidak serta merta terisi saja, berkat pengalaman memulai usaha sendiri dan restu orang tua mengantarkan dirinya sebagai pengusaha sukses pertanian dan peternakan di Indonesia Bagian Timur.

Rintisan awal usaha skala kecil sekarang telah berdiri pabrik pakan ternak, pembibitan dan penetasan ayam pedaging, kandang ayam broiler atau pedaging dan kandang ayam petelur hingga rumah potong ayam.

Selain itu ia membangun usaha bidang pertanian untuk tanaman pangan seperti jagung, beras dan juga kedelai. Perusahaan rintisan ini terbagi dua, yakni Perkasa Group bidang Peternakan dan Lintas Agro Group bidang Pertanian, persebaran jaringan hingga ke Papua, mulai dari Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Utara, Kalimantan Utara, NTB, Maluku Utara sampai ke NTT.

Jujur saya tidak terlalu dekat dengan Audy Joinaldy secara fisik, tetapi saya telah mengetahui namanya jauh sebelum ia ke Kota Padang maupun ketika pinangan sang Mahyeldi ia terima.

Bahkan, saat itu Maidestal Hari Mahesa politisi muda dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kota Padang telah membisiki sosok tentang Audy Joinaldy dalam konteks ‘keep silent’, istilah itu familiar dalam gerakan, baik kepemudaan maupun mahasiswa.

Komunikasi terbangun pada 5 Februari 2020, ia pun secara perlahan mengatakan kalau dirinya lebih fokus membangun kebutuhan pangan di Indonesia dan itu adalah alur yang masih sama ketika titik awal pada medio 1998 menggembangkan pengetahuan bidang peternakan dan pertanian.

Audy mengaku jika semasa kecil taat belajar pendidikan formal dari SD sampai SMA Islam di Al- Azhar pusat, Kebayoran Baru.

Ia kepincut memilih Institut Pertanian Bogor (IPB) tanpa tes karena prestasi sejak kecil hingga SMA.

Selama di bangku perkuliahan ia terlibat dalam organisasi internal kampus, seperti Himpunan Mahasiswa serta Badan Eksekutif Mahasiswa, pengetahuan akademik dibarengi keaktifan organisasi. Aktivis mahasiswa ini pun terbilang tercepat menyelesaikan studi,  dari data yang saya terima 3,5 tahun dan lulusan terbaik pula.

Kota Makassar titik tumpu Audy Joinaldy mengembangkan ide-ide cemerlang terkait peternakan dan pertanian, seiring waktu berkembang pesat di wilayah Indonesia Timur.

Melihat sejarah merupakan alur untuk meraih masa depan bahkan menjadi pemimpin sukses di era Revolusi Industri 4.0, termasuk dalam panggung pesta demokrasi 2020 lalu di Sumatera Barat.

Pendidikan dan bisnis dua sisi saling menguatkan untuk menjadi pemimpin, seperti halnya dilakukan Audy Joinaldy, kini ia dalam singasana kerajaan setelah pusat, yakni sebagai Wakil Gubernur Sumatera Barat untuk lima tahun kedepan. (*)

Usia muda adalah modal agar tangan terus terkepal, untuk arungi medan politik yang terjal, sebut Najwa Shihab, jurnalis dari Indonesia, 1977.

Pos terkait