Bangun Kawasan Taman KEHATI Kota Sawahlunto di Bekas Tambang Batu Bara Kolonial Belanda

Bangun Kawasan Taman KEHATI Kota Sawahlunto di Bekas Tambang Batu Bara Kolonial Belanda
Kawasan Taman Kehati Kabupaten Belitung. | (Dokumen: Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia)
HALONUSA.COM - Taman Keanekaragaman Hayati (KEHATI) akan segera ada di Kota Sawahlunto, Sumatera Barat (Sumbar). Kawasan pencadangan sumber daya alam di luar kawasan hutan itu memanfaatkan lahan bekas galian batu batu bara (coal).

Informasinya lahan seluas 24 hektare (Ha) merupakan galian tambang batu bara peninggalan Kolonial Belanda. Berfungsi sebagai konservasi in-situ dan ek-situ.

Taman KEHATI Sawahlunto hadir atas kerja sama Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI), Kementerian Lingkungan Hidup, Pemerintah Provinsi Sumatra Barat dan Pemerintah kota Sawahlunto.

"Taman KEHATI Sawahlunto akan menjadi ikon pertama kawasan pencadangan sumber daya alam di Indonesia yang memanfaatkan lahan bekas galian tambang batu bara," ujar tim Taman Kehati via rilis ke Halonusa.com.

Pemerintah Kota Sawahlunto telah menyetujui penggunaan lahan seluas 24,28 hektar untuk tahap awal. KEHATI akan membangun seluas kurang lebih 5 Ha.

Pada 8 Juni 2022 pencanangan Taman Kehati Sawahlunto seiring peringatan Hari Lingkungan Hidup 5 Juni. Sekaligus ulang tahun Emil Salim.

Emil Salim merupakan pendiri KEHATI berpesan bahwa rakyat yang menderita akibat pola pembangunan resource exploitative di masa lalu. Saat ini melalui upaya pelestarian keanekaragaman hayati, menjadi resource enrichment.

"Alam Sawahlunto kita pulihkan, pikiran manusia juga kita pulihkan. Ini adalah jawaban atas terkurasnya sumber daya alam Sawahlunto," kata Emil Salim, ahli ekonom di Indonesia.

Ia menerangkan, salah satu komitmen Indonesia dalam menjaga lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati adalah melalui konservasi in-situ dan ex-situ. Salah satunya dengan pembangunan taman keanekaragaman hayati (Taman KEHATI).

"Pembangunan Taman Kehati ini semoga dapat mendorong berkembangnya model pembangunan di kawasan bekas tambang yang berwawasan lingkungan dan menjadi sarana bermanfaat bagi masyarakat," katanya.

Sebelumnya pada medio 2019, Yayasan KEHATI bersama dengan Pemerintah Kota Sawahlunto, sepakat untuk membentuk taman Kehati. Kemudian menggelar studi, FGD dengan kelompok masyarakat, termasuk Dinas Lingkungan Hidup.

Kemudian menghasilkan sebuah Master Plan Taman Kehati Sawahlunto yang tersusun di 2020. Namun terjadi perlambatan sejak pandemi COVID-19 dan dokumen DED (detailed engineering design) baru rampung di 2021.

Taman KEHATI Sawahlunto


Kota Sawahlunto, Sumatera Barat sebagai Taman Kehati karena terpilih sebagai World Heritage City oleh UNESCO 2019, dan Kota Industri tambang batu bara sejak 1892.

Yayasan KEHATI memandang bahwa area bekas tambang merupakan potensi untuk masa depan sebagai kawasan konservasi. Kota Sawahlunto mempunyai area reklamasi yang cukup luas.

Pemerintah Kota Sawahlunto mempunyai visi ingin mewujudkan kota bekas tambang menjadi kota wisata, budaya dan lingkungan hidup.

Taman Kehati diinisiasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) berdasarkan Pasal 57 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Dalam peraturan hukum itu menyebutkan pemerintah pusat maupun daerah ataupun perseorangan dapat membangun Taman Kehati untuk melaksanakan pencadangan sumber daya alam hayati.

Ketegasan melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia No. 3 Tahun 2012 mengenai Taman Keanekaragaman Hayati.

Yayasan KEHATI sejauh ini, sudah terlibat dalam pembangunan Taman Kehati di berbagai lokasi di Indonesia. Seperti di Yogyakarta, Belitung, Sumedang dan di Sekadau, Kalimantan Barat.

Tujuan dari pembangunan Taman Kehati sebagai pusat koleksi tumbuhan, pengembangbiakan tumbuhan. Termasuk satwa pendukung penyedia bibit, genetik tumbuhan dan tanaman lokal.

Sarana ilmu pengetahuan, pendidikan, penelitian dan pengembangan wisata alam dan rekreasi. (*)

Berita Lainnya

Index