Budayawan Sumbar Azrul Jamaan: Jadikan Silek Jati Diri Orang Minangkabau

Budayawan Sumbar Arzul Jamaan saat menjadi pemateri Bimtek 'Membumikan Silek, Melestarikan Nilai Adat dan Budaya', di Hotel Grand Zuri Padang, 28-30 Oktober 2021.
Budayawan Sumbar Arzul Jamaan saat menjadi pemateri Bimtek 'Membumikan Silek, Melestarikan Nilai Adat dan Budaya', di Hotel Grand Zuri Padang, 28-30 Oktober 2021. (Foto: Istimewa)

HALONUSA.COM – Budayawan Sumatera Barat (Sumbar), Arzul Jamaan Datuak Endah Kayo Nan Kuniang, mengajak masyarakat untuk menjadikan silek sebagai jati diri orang Minangkabau.

Hal itu disampaikan oleh Arzul Jamaan saat menjadi pemateri dalam kegiatan bimbingan teknis (bimtek) ‘Membumikan Silek, Melestarikan Nilai Adat dan Budaya’.

Kegiatan yang digagas oleh Dinas Kebudayaan Sumbar itu, dilaksanakan di Hotel Grand Zuri, Padang, 28-30 Oktober 2021.

Bacaan Lainnya

Bimtek ini dibuka oleh Gubernur Sumbar, Mahyeldi. Turut hadir Anggota DPRD Sumbar, Maigus Nasir dan Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Gemala Ranti.

Selain itu, hadir juga Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sumbar, Fauzi Bahar. Peserta bimtek ini adalah anggota IPSI kabupaten/kota dan Provinsi Sumbar.

Pada kesempatan itu, Arzul Jamaan menjelaskan tentang pengertian silek dan sejarah silek di Minangkabau.

“Silat merupakan sarana pendidikan mental spritual dan pendidikan jasmani untuk menjadikan manusia mampu menghayati dan mengamalkan ajaran falsafah budi luhur, keterikatan dengan agama, sikap tangguh, disiplin, dinamis dan kreatif,” katanya di hadapan peserta.

Dijelaskannya, gerakan silek dapat meningkatkan sirkulasi agar neuron-neuron mendapatkan lebih banyak oksigen dan nutrien guna mendorong produksi hormon NGF (Never Growth Factor), faktor penumbuh syaraf, meningkatkan fungsi otak dan memberi ketenangan hati.

Menurutnya, jati diri pesilat itu adalah beriman dan bertakwa. Kemudian jujur, rendah hati, sopan santun, arif, kesatria, setia kawan dan percaya diri.

“Maka jadikanlah silek sebagai jati diri orang Minangkabau,” ajaknya.

Di Minangkabau, kata dia, ada beberapa simbol dalam penerimaan anggota silat. Pertama, kain putih yang bermakna kesucian tentang hidup dan mati.

Simbol kedua adalah pisau. Artinya, seorang pesilat tajam atau tangguh, tapi tidak melukai.

Ketiga, jeruk nipis, yang bermakna bembersih hati. Sehingga silek juga berfungsi sebagai pembersih hati.

Simbol keempat adalah jarum, yang maksudnya adalah solidaritas. Kelima, ayam, yang bermakna sikap kesatria. Terakhir, beras yang berarti persaudaraan.

Pos terkait