Catatan Bhenz Maharajo: Langkah Mustahil Datuak Safar

  • Whatsapp
Penulis, Bhenz Maharajo berdiskusi dengan Datuak Safaruddin Bandaro, Kamis, 25 Februari 2021.

Politik adalah seni. Ya, seni mengubah persepsi. Seni menjadikan yang tidak mungkin menjadi mungkin. Itu yang dilakukan Safaruddin Datuak Bandaro. Dia menjungkirbalikkan segala ketidakmungkinan menjadi mungkin. Pada pilkada serentak 2020, sang Datuak mempertontonkan seni politik yang sesungguhnya.

Panggung pilkada di Sumbar yang baru saja usai, harus diakui memang menjadi milik Safaruddin Datuak Bandaro dan wakilnya Rizki Kurnia. Perbincangan tentang keduanya meminggirkan kisah-kisah para calon lain. Deras cerita mengalir tentang langkah mustahil yang mereka lakukan, hingga menjadi pemenang di Pilkada Limapuluh Kota. Jumat, 26 Februari 2021, keduanya dilantik oleh Gubernur Sumbar sebagai bupati dan wakil bupati. Sebenar santiang!

Saya saksi dari langkah mustahil yang dilakoni Datuak Safar. Ada sekitar tiga minggu saya mendampinginya, sekaligus menyimak berbagai pergulatan politik yang dilalui. Lanyah kantor DPP Golkar Kemanggisan kami buat. Datang untuk melobi, mendapatkan Surat Keputusan (SK) calon. Bermacam pahit yang kami lalui, bahkan pernah sampai di puncak keputusasaan. Tapi, keinginan untuk mengabdi pada kampung halaman membuat semangat kembali muncul. Datuak Safar memang punya mimpi dan harapan untuk membangun Limapuluh Kota. Kampungnya, tempat ari-arinya tertanam.

Selain saya, ada Lakon Siska, tokoh muda Luak Limopuluah dan Doni Ikhlas, anak Datuak Safar sekaligus anggota DPRD Limapuluh Kota sebagai kawan selangkah setujuan. Dua anak muda yang selalu berada di garis depan ketika tokoh senior Golkar Sumbar itu mengalami berbagai kepahitan. Jika mau bersabar, Doni dan Lakon bisa menjadi penerus tepat trah politik Datuak Safar. Golkar juga tak perlu lagi berpikir panjang mencari kader untuk diadu di ladang pertempuran. Keduanya hanya butuh konsisten dan mampu berpacu dengan perubahan.

Datuak Safar nyaris terlempar dari percaturan pemilihan calon di internal Golkar. Benar dia pilihan utama, tapi lawan-lawan politiknya tetap mencari celah unjuk menjegal langkahnya. SK-nya sempat tergantung. Tidak hanya kompetitornya sesama bakal calon kepala daerah, ada juga orang dalam yang mencoba main-main. Langkah tulusnya untuk mengabdi dihambat.

Semua dilalui Datuak Safar dengan tenang. Dia tidak menghadapi rintangan dengan sesporadis. Tidak menyerang balik lawan politiknya. Datuak memang condong memilih jalan damai, menutup peluang lawan-lawan untuk menjatuhkan, ketimbang perang terbuka.

Tidak hanya di Golkar, di Partai Persatuan Pembangunan (PPP) juga demikian. SK Datuak Safar – Rizki Kurniawan baru keluar di menit-menit akhir. Sama dengan Golkar. Pergulatannya panjang pula. Tarik ulur. Golkar katanya menanti SK PPP keluar, PPP juga demikian, menunggu Golkar lebih dahulu mengeluarkan SK. Kedua partai itu seperti Manahan santiang. Jadinya lama. Di fase ini keputus asaan muncul. Kami yang muda-muda sempat berancang untuk pulang dulu ke Padang. Pasrah.

Menunggu tanpa kepastian itu memang mendebarkan. Butuh energi ekstra menghadapinya. Kami bertiga sempat emosi. Maklum masih muda. Anak muda itu memang sulit menahan ragam. Tapi Datuak Safar menenangkan. Dia politisi penuh pengalaman. Empat periode menjadi anggota DPRD Limapuluh Kota, dan seperiode di DPRD Sumbar membuatnya terbiasa menghadapi situasi pelik. Dia pernah menjadi wakil ketua DPRD, Ketua DPRD. Pengalamannya tebal.

Ketimbang memperturutkan emosi kami, anak-anaknya, Datuak lebih memilih memetakan langkah politik, melakukan analisa, dan segala macam peluang. Dia tetap berusaha ceria, walau kami tahu debar didadanya melebihi debar yang kami rasakan, letih yang melandanya berkali lipat dari kami. Guratan di wajahnya seolah bertambah, keningnya berlipat karena kebanyakan berpikir. Tapi, dia tahu, kalau dia luruh, harapan orang banyak juga ikut luruh. Dia tumpuan harapan perubahan.

Nyala semangat yang dijaga Datuak Safar berbuah manis. 28 Agustus 2020, tepat di hari ulang tahunnya yang ke-63, SK Golkar dan PPP serentak keluar, kemudian menyusul SK PKS. Tiga partai itulah yang mengusung Datuak Safar dan Rizki Kurniawan ke kursi kekuasaan. Segala resah terbayar sudah, semua letih lepas begitu saja. Pertempuran baru di depan mata. Doa-doa baik orang kampung yang mengiringi dan menjaga langkahnya dalam berjuang.

Dibao Untuang Sepotong Tunjang

Jika kebanyakan pejabat, kalau ke Jakarta duduknya di tempat berkelas, dan resto mahal, Datuak Safar tidak. Dia memilih makan di emperan, di kaki lima. Dia merasa canggung duduk di café-café mahal. Hidupnya memang tidak hedonis, nongkrongnya di lapau kopi. Di lapau, dia bisa menemui orang-orang yang hidup susah, merasakan kepelikan para pemilihnya, berbincang dan berdiskusi, tanpa dibatasi jabatan.

Satu yang pasti, kalau di Jakarta, Datuak pasti singgah ke Rumah Makan Dibao Untuang. Rumah makan kecil, terletak di jalan sempit Kebon Kacang, kawasan Tanah Abang. Dibao Untuang adalah pelampiasan rasa lapar, sekaligus tempat nyaman untuk bercerita. Datuak menemukan kenyamanan di sana, sekaligus menemukan selera yang pas dengan lidahnya.

Gulai tunjang RM Dibao Untuang memang juara. Khas. Tak ditemukan di rumah makan manapun. Begitu juga pangek padeh. Datuak Safar memang penikmat pangek padeh. Jika sudah berada di Dibao Untuang, rasanya segala beban hilang. Kami bisa tertawa di sana, riang di sana, sembari menertawakan segala pahit yang sudah dilalui. Ini tempat bersejarah, setidaknya bagi kami yang mengiringi perjuangannya.

Keluar dari Dibao Untuang, energi kembali berlipat, garis perjuangan bisa ditata. Benar kata orang-orang tua, jika perut kenyang, apa saja bisa dihadang. Datuak memang paling bisa menjaga semangat barisannya.

Bersafari Bersama Rakyat

Kisah pahit di Jakarta menjadi pelecut untuk berjuang. Setelah perang di jantung Indonesia itu berlalu, perang baru di mulai, perang yang menguras segalanya. Tenaga, pikiran, dan biaya. Perang dalam rangka merebut hati pemilih.

Memang, Datuak Safar politisi yang lama di labirin kekuasaan, tapi soal logistik, dia bukan tipikal pejabat yang suka menumpuk kekayaan. Mendekati 25 tahun jadi anggota dewan, Datuak Safar masih tetap hidup dalam kesederhanaan. Dia memilih untuk terus berbagi ketimbang membuat gendut rekening pribadi. Ini yang jadi masalah. Pertarungan politik itu juga pertarungan biaya. Logistik. Datuak Safar lemah di sini. Walau wakilnya, Rizki Kurniawan orang berpunya, tapi tentu segala biaya tidak bisa disandarkan saja kepadanya. Apalagi dia hanya berposisi sebagai wakil. Sementara calon-calon lainnya, orang-orang kuat. Logistiknya berlipat.

Walau kurang di logistik, Datuak punya barisan yang kokoh. Orang-orang di sekelilingnya militan. Berjuang tanpa memikirkan keuntungan. Inilah yang barangkali kurang di pasangan calon lain. Dengan barisan yang solid, Datuak tidak merasa cemas akan kekurangan logistik. Baginya, perjuangan bersama, dengan segenap ketulusan dan keyakinan, lebih berharga dibandingkan berjuang dengan mengandalkan modal banyak. Langkah seperti ini sudah dijalani. Lima periode bertarung untuk kursi DPRD, dia mampu meyakinkan pemilih, menyatukan segala harapan tanpa terbelenggu uang.

Setelah ditetapkan sebagai pasangan calon oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU), Datuak mulai berkeliling, menebar harapan pembangunan untuk Limapuluh Kota. Bernomor urut tiga, taglinenya safari, membangun Limapuluh Kota yang madani. Dia melangkah bersama masyarakat, berjalan beriring. Kurang di logistik, tapi kaya dukungan.

Ada empat pasang yang bertarung di pilkada Limapuluh Kota. Nomor urut satu, Muhammad Rahmad – Assyirwan Yunus, nomor urut dua, Darman Sahladi – Maskar Datuak Pobo, Datuak Safaruddin – Rizki Kurniawan nomor urut tiga, dan terakhir, Ferizal Ridwan – Nurkhalis di nomor urut empat.

Mematahkan Survei

Berbulan-bulan bertarung, di tataran elit, pasangan Datuak Safaruddin – Rizki Kurniawan kurang dianggap. Para elit Cuma membicarakan Darman – Maskar dan Rahmad – Assyirwan. Dianggap, hanya keduanya yang akan bertarung dalam perebutan kekuasaan. Pasangan Datuak Safar – Rizki dan Ferizal – Nurkhalis, bahkan hanya dianggap sebagai penghibur.

Prediksi itu tidak lepas dari hasil survei sejumlah lembaga. Indikator Politik Indonesia misalnya, dalam rilisnya pada 15 November 2020 menempatkan Datuak Sapar – Rizki Kurniawan di urutan ketiga. Nomor satu Darman Sahladi – Maskar M Datuak Pobo. Selisihnya bahkan sangat jauh.

Pasangan Darman Sahladi – Maskar M Datuak Pobo memperoleh dukungan sebesar 33,5 persen. Posisi kedua ditempati pasangan Muhammad Rahmad – Asyirwan Yunus dengan angka 23,6 persen. Sedangkan Safaruddin – Rizki Kurniawan diangka 21,9 persen diikuti Ferizal Ridwan – Nurkhalis 13,6 persen. Sebanyak 7,4 persen lainnya belum menentukan pilihan dan tidak tahu mau memilih siapa.

Inilah yang akhirnya mengubah persepsi elit dan membuat pasangan yang dianggap unggul merasa puas diri. Padahal survei bukanlah harga mati, kondisi di lapangan berbeda jauh. Ketika pasangan calon lain berpuas diri, Datuak Safar terus bergerilya, terus meyakinkan masyarakat. Pada akhirnya benar, usaha tidak mengkhianati hasil. Hasil survei amburadul, jauh dari kenyataan. Datuak Safar yang tidak diunggulkan malah mampu merebut pemilih dengan selisih suara 4 persen. Kemenangan itu dikuatkan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak gugatan Darman Sahladi – Maskar.

Kemenangan ini, bagi Datuak Safar bukanlah kemenangan dirinya dan Rizki, bukan pula cuma kemenangan relawan dan partai politik. Ini kemenangan masyarakat Limapuluh Kota, kemenangan semua orang. Termasuk yang pada hari pencoblosan tidak menjatuhkan pilihan pada Datuak Safar. “Apa didukung rakyat nak. Kemenangan Apa kemenangan rakyat. Semuanya tanpa terkecuali,” demikian pesan WhatsApp Datuak Safar pada saya ketika kemenangan itu ditetapkan KPU.

Kemenangan yang dianggap mustahil inilah jadi sumber pembicaraan. Hampir semua elite politik di Sumbar membicarakan kemenangan Datuak dan Rizki. Beberapa politisi yang saya temui mengaku belajar dari cara Datuak dalam berpolitik, caranya yang bisa mengambil hati pemilih tanpa uang banyak. Kekinian, jarang politisi yang mampu bersaing, tanpa punya modal logistik mumpuni. Walau punya gagasan, ide dan pemikiran, tanpa logistik, acap kali perjuangan kandas. Datuak satu dari sedikit yang mampu memutar mitos itu.

Menyudahi Bengkalai Pembangunan

Saya, dan pastinya masyarakat Limapuluh Kota berharap banyak pada pasangan Datuak Safar – Rizki Kurnia. Keduanya punya pekerjaan rumah yang berat untuk membangun Limapuluh Kota. Banyak bengkalai yang mesti diselesaikan. Limapuluh Kota harus berlari kencang mengejar ketertinggalan. Tali politik yang putus akibat perbedaan pilihan juga mesti direkat sesegera mungkin.

Kepada Datuak Safar saya cuma bisa berpesan, untuk terus konsisten di jalannya, seperti konsistennya dia menjaga semangat untuk mengabdi. Jadilah pemimpin seperti kayu gadang di tangah padang: Pokoknya untuk bersandar, daunnya tempat berlindung kala panas mendera.

Seperti biasa, saya memastikan untuk terus berada di luar kekuasaan. Saya katakan pada Datuak, saya akan menjadi peniup peluit, yang mengingatkannya jika salah langkah, mendukungnya penuh kalau kebijakannya berpihak pada rakyat badarai. Saya juga menyebut, kalau nanti Datuak mangkir dari garis perjuangan, saya terdepan melawannya.

Teruslah dalam kesederhanaan hidup. Saya yakin Datuak amanah, seyakin saya menyematkan panggilan Apa (ayah-red) padanya. Selamat berkelindan dalam pengabdian, selamat sibuk mengurusi rakyat yang kadang keras kepala. Oh iya, kapan lagi kita menikmati tunjang Dibao Untuang? Hehehehe…. (*)

 

Pos terkait