Cerita Mahasiswa KKN Unitas Informasikan Bahaya PMK dan Ajarkan Peternak Racik Jamu untuk Sapi

Mahasiswa KKN Universitas Taman Siswa (Unitas) berikan penyuluhan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) ke petani di kawasan Pauh Padang. (Foto: Dok. Istimewa)
Mahasiswa KKN Universitas Taman Siswa (Unitas) berikan penyuluhan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) ke petani di kawasan Pauh Padang. (Foto: Dok. Istimewa)

HALONUSA.COM – Sejumlah mahasiswa yang tenagh melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Universitas Taman Siswa (Unitas) Padang memberikan penyuluhan tentang penyakit mulut dan kuku (PMK) pada hewan.

Salah seorang mahasiswa peserta KKN,Muhammad Arif mengatakan, sosialisasi dan penyuluhan yang mereka lakukan dihadiri langsung oleh para dosen pembimbing dan masyarakat para peternak sapi di Kecamatan Pauh, Kota Padang.

“Dengan adanya sosialisasi yang kami lakukan,setidaknya bisa memberitahukan kepada para peternak bagaimana bahaya PMK yang rawan terjadi kepada hewan ternak,” kata Arif, Kamis (4/8/2022).

Bacaan Lainnya

Selain penyuluhan, para mahasiswa KKN juga mengajarkan petani meracik jamu pencegah PMK kepada sapi terhadap peternak di Kampung Tanjung, Kelurahan Cupak Tangah tersebut.

PMK merupakan penyakit infeksi virus yang bersifat akut dan sangat menular. Penyakit ini menyerang semua hewan berkuku belah atau genap, seperti sapi, kerbau, babi, kambing, domba termasuk juga hewan liar seperti gajah, rusa dan sebagainya.

Virus ini diketahui memiliki gejala fisik pada bagian mulut dan kuku pada hewan ternak, yaitu luka pada kuku dan kuku lepas, serta luka pada lidah dan daerah bibir.

Untuk pencegahan dan pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan cara desinfeksi peralatan dan baju dengan air deterjen, dan untuk pengobatan dilakukan dengan cara pemberian larutan soda abu pada luka di mulut maupun di kuku.

Pertahanan Pertama

Ketua Tim Pakar dan Penanganan Penyakit Kuku dan Mulut (PMK) Profesor Wiku Adisasmito mengatakan bahwa pertahanan pertama penularan PMK adalah biosecurity apabila vaksin dan pengobatan belum ada.

“Pertama adalah Alat Pelindung Diri (APD), jika APD tidak tersedia atau tidak mencukupi bisa menggunakan biosecurity dengan disinfeksi yang rutin,” kata Wiku beberapa waktu lalu.

Dia mengharapkan setiap petugas yang keluar atau masuk kandang maupun peternakan disemprot terlebih dahulu.
Kemudian memastikan alas kaki yang digunakan bersih dengan cara didisinfeksi terlebih dahulu. Sehingga dengan demikian hewan selalu terjaga.

Pos terkait