Dosen UNP, ISI, dan UIN Batusangkar Teliti Resolusi Konflik Berbasis Kebudayaan di Komunitas Adat Kajang Sulsel

Penelitian 3 dosen asal Sumbar terhadap masyarakat adat Kajang di Bulukumba, Sulawesi Selatan. (Foto: Dok. Istimewa)
Penelitian 3 dosen asal Sumbar terhadap masyarakat adat Kajang di Bulukumba, Sulawesi Selatan. (Foto: Dok. Istimewa)

HALONUSA.COM – Tiga dosen yang berasal dari Sumatera Barat (Sumbar) melakukan penelitian resolusi konflik berbasis kebudayaan di Komunitas Adat Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan (Sulsel).

Tiga dosen tersebut, yakni, Susi Fitria Dewi dari Universitas Negeri Padang (UNP), Febri Yulika dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang dan Andri Maijar dari Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus (UIN MY) Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar.

Penelitian ini merupakan kolaborasi yang paripurna yang difasilitasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M).

Bacaan Lainnya

Kolaborasi dalam antar universitas ini tentu memberikan sudut pandang yang berbeda sesuai dengan keilmuan masing-masing.

Ketua peneliti Susi Fitria Dewi dan tim menemukan bahwa masyarakat adat di Kajang memiliki sesuatu yang unik.

“Mereka bertahan dengan kearifan lokalnya untuk menciptakan kemasalahatan bagi komunitasnya dan juga masyarakat luas,” kata Susi, Selasa (26/7/2022).

Susi mengaku bahwa pihaknya sudah mendapatkan hasil yang sesuai dengan tujuan penelitian dan beberapa kata kunci yang ingin didapatkan dari informan juga sudah didapatkan.

“Pernyataan-pernyataan ini sudah dapat kami konfirmasi dari narasumber yang sebelumnya dilakukan melalui literatur review,” katanya.

Dosen ISI Padang Panjang, Febri Yulika juga menyampaikan bahwa kolaborasi ini dilakukan dengan pendekatan multi perspektif.

“Ketika kita berbicara tentang masyarakat tidak bisa dari satu sudut pandang saja, dengan kolaborasi ini tentu kami mendapatkan sudut yang saling melengkapi terhadap satu objek kajian masyarakat,” ucapnya.

Hal yang sama juga disampaikan Dosen UIN MY Batusangkar, Andri Maijar.

Dirinya menyebut, dengan adanya kolaborasi multi disiplin tentu pihaknya bisa melakukan pekerjaan dan penelitian dengan maksimal.

“Muaranya, kami bisa mendapatkan sisi baik dari kearifan lokal sebagai produk kebudayaan yang dapat kita pelajari kembali,” imbuhnya. (*)

Pos terkait