Gempa Bumi: Catatan Sejarah Gempa Bumi Di Sumatera Barat

Collectie-TROPENMUSEUM-Verwoeste-Gebouwen-Langs-de-Spoorweg-van-Padang-Pandjang-na-de-Aardbeving-van-1926-TMnr-10003988-Halonusa-Ade-Yuandha(@Ade_Yuandha)
Gempa Bumi: Catatan Sejarah Gempa Bumi Di Sumatera Barat. Collectie TROPENMUSEUM Verwoeste Gebouwen Langs de Spoorweg van Padang Pandjang na de Aardbeving van 1926. Bangunan Hancur di Sepanjang Rel Kereta Api Padang Pandjang setelah Gempa 1926 (Foto: Tropenmuseum National Museum of World Cultures/ Halonusa)

HALONUSA.COM – Sumatera Barat merupakan daerah dilalui oleh dua patahan besar akibat pergerakan lempeng tektonik Eurasia dengan Indo-Ausralia dan juga terletak pada patahan (sesar) Semangko. Tumbukan kedua lempeng tersebut terjadi di wilayah bagian Barat Kepulauan Mentawai.

Kejadian gempa bumi dan letusan Gunung api berasosiasi dengan pergerakan lempeng, seperti gempa bumi dan aktifnya Gunung api di Sumatera Barat dan Kerinci Provinsi Jambi.

Bacaan Lainnya

Besaran dan intensitas gempa bumi yang terjadi di Sumatera barat sangat tergantung pusat gempa clan kondisi geologisnya.

Sumatera Barat selain terletak pada daerah perbukitan, tetapi juga terletak berhadapan langsung dengan lautan Hindia yang dicirikan gelombang laut yang besardan abrasi yang tinggi dengan panjang garis pantai 375 km.

Daerah Tingkat II yang berhadapan langsung dengan laut yaitu Kab. Pesisir Selatan, Kab. Padang Pariaman, Kab. Pasaman Barat, Kab. Mentawai, Kota Padang dan Kota Pariaman yang umunnya mepunyai jumlah penduduk padat dan bermukun sepanjang pantai.

Berdasarkan kondisi geografis Sumtera Barat di atas, maka daerah Sumatera Barat, merupakan daerah paling rawan dengan bencana alam.

Baik yang disebabkan oleh tenaga eksogen seperti gerakan massa batuan (mass movement) seperti, longsor lahan, rayapan tanah, lumpur mengalir, batuan yang berguling, batu yang jatuh serta banjir dan aruslgelombang laut dengan abrasi pantai.

Hal ini akan diperparah lagi jika dipicu dengan topografi yang kasar, curah hujan yang tinggi dan getaran gempa bumi serta penduduk padat yang kesadaran lingkungannya masih kurang.

Pos terkait