Ini Kronologi Kasus Pelecehan Seksual Terhadap Kakak Kandung di Nias, AKP Iskandar Ginting: Dampak Sering Nonton Bokeh

Ini Kronologi Kasus Pelecehan Seksual Terhadap Kakak Kandung di Nias, AKP Iskandar Ginting: Dampak Sering Nonton Bokeh
Kasat Reskrim AKP Iskandar Ginting, SH didampingi Kanit PPA Reskrim dan PKPA Nias menggelar konferensi pers Pengungkapan kasus dugaan tindak pidana melakukan persetubuhan di bawah umur yang terjadi di Desa Hilinaa Tafuo, Idanogawo, bertempat di Mapolres N
HALONUSA.COM - Polres Nias, Sumatera Utara (Sumut) mengungkap kasus pelecehan seksual terhadap perempuan, Desa Hilina’a Tafuo, Kecamatan Idanogawo, Kabupaten Nias, Sumatera Utara. Pelaku remaja cabul itu merupakan adik dari korban YN (17 tahun).

Kronologi kasus pelecehan seksual terhadap kakak kandung akibat dari perbuatan pelaku SN (15 tahun) hingga hamil 6,5 bulan setelah Personel Satreskrim Polres Nias mengembangkan laporan dari orang tua korban.

Kasus rudapaksa tersebut bermula dari laporan orang tua korban melaporkan terduga AW, yang merupakan tetangganya. Baca juga: Kirik!!! Adik Rudapaksa Kakak Kandung Sebanyak Lima Kali, Polres Nias: Terancam 20 Tahun Penjara

AW menurut keterangan polisi diduga telah mencabuli atau melakukan pelecehan seksual terhadap YN (17 tahun) merupakan warga Desa Hilina’a Tafuo, Kecamatan Idanogawo, Kabupaten Nias, Sumatera Utara.

Usai penyidik memintai keterangan terhadap terduga pelaku AW, ternyata tidak ditemukan bukti bahwa yang bersangkutan melakukan perbuatan asusila terhadap korban.

"Awalnya kami mengamankan AW terduga pelaku pelecehan seksual terhadap perempuan. Saat diminta keterangan ternyata AW tidak mengaku lantas memberikan laporan dan bukti baru bahwa terduga pelaku merupakan SN (15 tahun), yang merupakan anak dari pelapor," ujar Kasat Reskrim Polres Nias, AKP Iskandar Ginting saat jumpa pers di Mapolres Nias, Selasa (23/11/2021).



Penelusuran kasus tersebut setelah penyidik Polres Nias, Sumut menerima laporan orang tua korban per tanggal 5 November 2021. Laporan tersebut tertulis bahwa korban telah menjadi korban pelecehan seksual terhadap korban YN.

"Ya, benar laporan masuk ke meja penyidik 5 November lalu atas dugaan pencabulan terhadap korban pada April hingga Juni 2021 bahkan hamil dengan usia kandungan 26 minggu atau 6,5 bulan," terang Kasat Reskrim, AKP Iskandar Ginting didampingi Kepala Urusan Pembinaan Operasional Sat Reskrim Polres Nias,  Iptu Sugiabdi.

AKP Iskandar Ginting menerangkan, ternyata dari laporan tersebut berkembang informasi baru, semula terduga AW membantah, yang kemudian personel Sat Reskrim mengamankan SN (15 tahun) yang merupakan adik korban.

"Pengamanan terhadap pelaku SN berdasarkan keterangan saksi-saksi, yang kini SN mendekam sel tahanan," ujar AKP Iskandar Ginting kepada awak media.

Pelaku rudapaksa tersebut mengaku jika dirinya melakukan perbuatan pelecehan seksual tersebut terhadap korban yang merupakan kakak kandungnya sendiri, lantaran acap menonton video bokeh.

"Perbuatan melanggar hukum itu karena pelaku acap menonton video bokeh dari ponsel temannya," terang  AKP Iskandar Ginting.



AKP Iskandar Ginting melanjutkan, selain pemeriksaan terhadap pelaku juga berdasarkan keterangan korban YN di hadapan penyidik PP Polres Nias.

"Ia mengaku jika perbuatan pelecehan seksual tersebut dilakukan oleh SN yang merupakan adiknya kandungnya sendiri, dan bukan terduga pelaku awal AW," terang AKP Iskandar Ginting didampingi tim Advokasi Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA) Eli Harefa dan Iren Bohalima.

Kasat Reskrim Polres Nias mengimbau agar orang tua mengawasi aktivitas anak-anak, sehingga tidak berdampak pada perilaku negatif apalagi sampai melanggar perbuatan hukum.

"Kami dari Polres Nias sangat mengimbau untuk kita semua agar mengawasi setiap aktivitas anak-anak, apalagi yang bertentangan dan sangat dilarang dalam agama termasuk bertentangan dengan adat budaya kita di Tanoniha," ujar AKP Iskandar Ginting meneruskan pesan Kapolres Nias.



Pelaku kirik itu kini mendekam di sel Polres Nias, berdasar keterangan penyidik PPA Polres Nias, pelaku SN terjerat pasal 81 ayat (1), (3) Undang Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti undang undang nomor 01 tahun 2016, atas perubahan kedua undang undang Nomor 23 Tahun 2002 jo Undang Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan UU Nomor 23 tahun 2002 terkait perlindungan anak.

"Pelaku SN terancam hukuman 20 tahun penjara dan sekarang telah kami amankan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," tutur AKP Iskandar Ginting.

Lantaran pelaku dan korban masih di bawah umur, semua dalam pengawasan tim advokasi Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA). (*)

Berita Lainnya

Index