Jarak Pandang di Sebagian Besar Kawasan Sumbar Berkurang? Ternyata Ini Penyebabnya

Ilustrasi kabut. (Foto: Dok. Pixabay)
Ilustrasi kabut. (Foto: Dok. Pixabay)

HALONUSA.COM – Beberapa hari belakangan, jarak pandang jalanan di sejumlah kawasan Sumatera Barat (Sumbar) sedikit lebih redup atau tidak cerah seperti biasa.

Hal tersebut dibenarkan oleh Kepala Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Bukit Kototabang, Sugeng Nugroho.

Bacaan Lainnya

“Memang mengalami keterbatasan (jarak pandang), namun masih dalam kondisi normal, 10 kilometer, masih normal,” katanya kepada Halonusa.com via seluler, Senin (17/1/2022).

Menurut Sugeng, keterbatasan jarak pandang yang terjadi belakangan ini disebabkan terjadinya kekeruhan udara.

“Kemungkinan haze tidak turun atau kabut yang timbul dari suspensi partikel kecil dan kering di udara. Partikel-partikel ini terlalu kecil untuk dilihat atau dirasakan,” ujarnya.

“Sehingga, kalau kita melihat bukit pada pagi hari yang biasanya cerah, dari awalnya jernih menjadi sedikit buram,” katanya.

Data yang berhasil dihimpun Halonusa.com, pengukuran data PM10 secara jam dari tanggal 14 hingga 16 Januari 2021, terdapat trend kenaikan konsentarsi hingga tanggal 16 pukul 16.00 WIB.

Update konsentrasi rata-rata tanggal 16 Januari 2022 terlihat data kenaikan konsentarsi dari rata-rata konsentrasi PM10 hari sebelumnya.

Kenaikan konsentrasi PM10 dari grafik tersebut terjadi pada siang menjelang sore.

Adapun pengukuran curah hujan yang dilakukan di Stasiun GAW Bukit Kototabang diketahui dari tanggal 10 hingga 17 Januari 2022 tidak terjadi hujan.

Kemudian, pantauan hotspot dari modis pada 48 jam untuk Sumbar, jumlahnya mencapai 18 dan untuk wilayah Riau jumlah hotspot sebanyak 59 titik.

Pos terkait