Jumlah Konsumsi Pertalite dan Bio Solar di Sumbar, Pertamina Sebut Ada Peningkatan

Kuota BBM bersubsidi di Sumbar diklaim aman meski terjadi peningkatan konsumsi. (Foto: Dok. Istimewa Pertamina Patra Niaga)
Kuota BBM bersubsidi di Sumbar diklaim aman meski terjadi peningkatan konsumsi. (Foto: Dok. Istimewa Pertamina Patra Niaga)

HALONUSA.COM – Hingga Juli 2022, konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi di Sumatera Barat (Sumbar) sudah menyentuh angka 65 persen dari total kuota penyaluran tahunan.

Rata-rata konsumsi harian Bio Solar di Sumbar mencapai 1.244 kiloliter per hari.

Bacaan Lainnya

Angka konsumsi tersebut meningkat jika dibandingkan pada bulan sama di tahun sebelumnya yang berjumlah 1.164 kiloliter.

Khusus produk Pertalite, hingga Juli 2022 sudah menyentuh angka 76 persen dari total kuota penyaluran tahunan.

Rata-rata konsumsi harian di Sumbar mencapai 1.838 kiloliter per hari meningkat jika dibandingkan dengan Juli 2021 yang mencapai 1.503 kiloliter per hari (Year on year).

Meski demikian, Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) memastikan ketersediaan BBM aman di tengah naiknya permintaan.

Pjs Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Agustiawan memastikan jika ketahanan pasokan Bio Solar dan Pertalite cukup untuk memenuhi kebutuhan di Sumbar.

Pertamina, katanya, terus berkoordinasi dan memantau penyaluran BBM di lapangan berjalan lancar dan aman.

“Kami mencatat terjadi peningkatan konsumsi produk BBM Bio Solar dan Pertalite, meningkatnya mobilitas masyarakat dan membaiknya kondisi pandemi Covid-19 menjadi beberapa alasan peningkatan permintaan tersebut,” katanya, Selasa (23/8/2022).

Agustiawan berharap masyarakat membeli BBM sesuai dengan peruntukan dan spesifikasi kendaraannya.

“Sehingga, BBM subsidi dapat diakses oleh masyarakat yang benar-benar berhak sesuai dengan peraturan yang berlaku,” katanya.

Pihaknya juga berterima kasih dan mengapresiasi upaya aparat penegak hukum dan instansi terkait menertibkan oknum atau pelaku penyalahgunaan BBM bersubsidi.

Selain sanksi pidana, ungkap Agustiawan, Pertamina telah mengatur sanksi bagi lembaga penyalur yang terbukti menjual atau menyalahgunakan BBM bersubsidi dengan tidak tepat sasaran.

Sanksi tersebut berupa skorsing pemberhentian penyaluran produk subsidi sesuai dengan rentang waktu tertentu hingga pemutusan kerjasama.

Seperti diketahui, penggunaan solar bersubsidi telah diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) nomor 191 tahun 2014.

Aturan pembelian maksimum untuk Solar subsidi telah diatur pula melalui Surat Keputusan Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) nomor 04/P3JBT/BPH Migas/Kom/2020.

Selain itu, berdasarkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 37.K/HK.02/MEM.M/2022, produk Pertalite ditetapkan sebagai jenis BBM khusus penugasan (JBKP). (*)

Baca juga:

Pos terkait