Keluarga Rudapaksa Anak Bawah Umur, Psikolog: Rentan Muncul Predator Seksual Anak

Ilustrasi Rudapaksa (Foto: Dok. iStock)
Ilustrasi Korban Rudapaksa (Foto: Dok. iStock)

HALONUSA.COM – Psikolog dari Universitas Andalas (Unand), Nila Anggreiny mengatakan, jika fungsi dan peran keluarga tidak berjalan dengan baik, bisa memunculkan penyakit psikologi di suatu keluarga.

“Akibatnya, bisa memunculkan beragam penyakit psikologi, termasuk predator anak,” katanya, Rabu (17/11/2021).

Nila mengatakan, untuk mengetahui baik atau tidaknya peran suati keliarga dilihat dari cara berkomunikasi.

Bacaan Lainnya

“Dalam hal ini termasuk cara berkomunikasi antar anggota keluarga, bahkan berkomunikasi dengan diri mereka sendiri,” katanya.

Semakin lama cara komunikasi berlangsung buruk, kata Nila, maka akan semakin rentan suatu keluarga terserang penyakit psikologi.

Seperti malas mengurus keluarga, kurang berinteraksi, menasehati dan hingga paling fatal adalah hilangnya kasih sayang dan perasaan untuk saling melindungi di dalam keluarga itu sendiri.

“Faktor tersebut bisa merangsang munculnya predator seksual terhadap anak, hingga akhirnya tega merudapaksa anak kecil di dalam keluarga sendiri. Rasa untuk saling melindungi dan mengayomi itu telah hilang,” ucapnya.

Menurutnya, anak di bawah umur sangat rentan menjadi korban pelecehan seksual lantaran mereka belum menguasai cara berkomunikasi secara menyeluruh dan lebih mengutamakan emosional.

“Apalagi anak yang sering mendapatkan guncangan secara mental dan pemaksaan secara fisik. Itu semakin susah menguasai komunikasi dengan orang lain. Anak akan lebih banyak memilih diam,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, posisi anak yang menjadi korban pelecehan seksual oleh keluarganya sendiri, semakin membuat anak dalam posisi terjepit.

Di dalam alam bawah sadar si anak, keluarga seperti kakak, ayah, ibu atau yang lebih tua seharunya bisa menjadi pelindung bagi diri mereka.

Namun kenyataannya, mereka pula yang menjadi pelaku dan merusak segalanya.

“Traumatik anak yang menjadi korban pelecehan seksual oleh keluarganya sendiri itu jauh lebih berat dari pada anak yang menjadi korban dari orang lain. Mereka merasa tidak ada yang mau melindungi,” katanya.

Menurut Nila, perlu pendampingan secara masif untuk mengembalikan mental dan karakter si anak.

Pos terkait