Masyarakat Dituntut Paham dan Taat Aturan di Perlintasan Sebidang

Kampanye keselamatan berlalu lintas di perlintasan sebidang kereta api. (Foto: Dok. Istimewa)
Kampanye keselamatan berlalu lintas di perlintasan sebidang kereta api. (Foto: Dok. Istimewa)

HALONUSA.COM – Masyarakat diminta untuk paham dan mengerti terkait aturan di perlintasan sebidang yang dilalui oleh kereta api.

Catatan KAI Divre II Sumbar, sejak Januari hingga Agustus 2022 telah terjadi 15 kecelakaan di pelintasan sebidang kereta api.

Bacaan Lainnya

Rincinya, korban meninggal dua orang, dan luka ringan sembilan orang dan selamat empat orang.

“Kami mengajak seluruh pengguna jalan untuk bersama-sama menaati rambu-rambu yang ada serta lebih waspada saat akan melintasi pelintasan sebidang kereta api, Berhenti, Tengok Kanan, Kiri, Aman, Jalan (Berteman),” kata Vice President PT KAI Divre II Sumbar, Mohamad Arie Fathurrochman, Sabtu (27/8/2022).

Arie mengatakan, peningkatan keselamatan perlintasan sebidang antara jalur kereta api dengan jalan, telah diatur pengaturannya secara khusus berdasarkan Peraturan Menteri 94 tahun 2018, tentang peningkatan keselamatan perlintasan sebidang antara jalur kereta api dengan jalan.

“Sebagai bentuk upaya meningkatkan faktor keselamatan, kami terus melakukan koordinasi bersama Ditjen Perkeretaapian Kemenhub dan Pemda setempat terkait penutupan sejumlah pelintasan sebidang,” katanya.

Dia mengatakan, kecelakaan di pelintasan sebidang tidak hanya merugikan pengguna jalan tapi juga dapat merugikan PT KAI.

Tidak jarang perjalanan KA lain menjadi terhambat, kerusakan sarana atau prasarana perkeretaapian, hingga petugas KAI yang terluka akibat kecelakaan di pelintasan sebidang.

“Untuk menekan angka kecelakaan dan korban, maka masyarakat diharapkan dapat lebih disiplin berlalu lintas, menyadari dan memahami juga fungsi pintu pelintasan,” ujarnya.

Kampanye keselamatan berlalu lintas di perlintasan sebidang kereta api. (Foto: Dok. Istimewa)
Kampanye keselamatan berlalu lintas di perlintasan sebidang kereta api. (Foto: Dok. Istimewa)

Ditambahkannya, pintu pelintasan kereta api berfungsi untuk mengamankan perjalanan kereta api, agar tidak terganggu pengguna jalan lain seperti kendaraan bermotor maupun manusia.

Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) nomor 72 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan kereta pasal 110 ayat 4 Juncto PP nor 61 tahun 2016.

“Perjalanan kereta api lebih diutamakan karena jika terjadi kecelakaan dampak dan kerugian yang ditimbulkan dapat lebih besar. Maka dari itu pintu pelintasan utamanya difungsikan untuk mengamankan perjalanan KA,” kata Arie.

Pintu pelintasan kereta api, katanya merupakan alat bantu keamanan bagi para pengguna jalan, seperti halnya bunyi sinyal serta petugas penjaga perlintasan sebidang.

Sedangkan rambu-rambu ‘STOP’ yang telah terpasang menjadi penanda utama untuk diperhatikan pengguna jalan.

Untuk itu, pengendara kendaraan wajib berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai ditutup, dan atau ada isyarat lain.

Pengendara juga wajib memastikan kendaraannya dapat melewati pelintasan sebidang dengan selamat, serta wajib memastikan pula kendaraannya keluar dari pelintasan sebidang apabila mesin kendaraan tiba-tiba mati di pelintasan sebidang.

“Bagi pejalan kaki, wajib berhenti sejenak sebelum melintasi pelintasan sebidang, menengok ke kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada kereta api yang akan melintas,” katanya

“Di samping itu, dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengganggu konsentrasi, antara lain menggunakan telepon genggam dan menggunakan headset pada saat melintasi pelintasan sebidang,” sambung Arie.

Dalam UU 22 tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan pasal 114 menyebutkan bahwa pada pelintasan sebidang antara jalur kereta api dan jalan, pengemudi kendaraan wajib berhenti ketika sinyal sudah berbunyi, palang pintu kereta api sudah mulai di tutup, dan atau ada isyarat lain.

Kemudian, mendahulukan kereta api dan memberikan hak utama kepada kendaraan yang lebih dahulu melintas rel. (*)

Baca juga:

Pos terkait