Mayat Bayi Bertali Pusar Ditemukan di Padang Pariaman, Ini Hukum dan Sanksi

Mayat Bayi Bertali Pusar Ditemukan di Padang Pariaman, Ini Hukum dan Sanksi
Personel Polres Padang Pariaman, Sumatera Barat saat mengevakuasi jenazah bayi bertali pusat yang ditemukan di warga di Padang Pariaman saat menangkap ikan di Korong Toboh Olo, Nagari Toboh Gadang, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang (Sintoga), Kabupaten Padan
HALONUSA.COM - Warga Sintuak Toboh Gadang (Sintoga), Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) menemukan mayat bayi laki-laki dengan tali pusar masih melekat di perut.

Mayat bertali pusat ditemukan di Padang Pariaman itu tepatnya di Korong Toboh Olo, Nagari Toboh Gadang.

Penemuan jenazah bayi bertali pusar itu ketika seorang warga tengah menangkap ikan tidak jauh dari lokasi Tempat Kejadian Perkara (TKP).

"Ya penemuan bayi bertali pusar awalnya ditemukan seorang saksi sedang memancing ikan tidak jauh dari lokasi penemuan," tutur Reskrim Polres Padang Pariaman, AKP Ardiansyah Rolindo Saputra.

Saksi bernama Afif, 11 tahun, mata Ardiansyah, melihat mayat seorang bayi laki-laki dalam kondisi terbenam dan masih berplasenta tali pusar.

"Kemudian saksi atas nama Jeniko, 11 tahun memberitahukan kejadian tersebut kepada warga sebelum kami datangi lokasi kejadian," katanya.

Ardiansyah mengatakan, pelaku pembuang bayi tak berdosa tersebut masih belum diketahui.

Hukum dan Pasal KUHP Bagi Pelaku atau Orang Tua Membuang Bayi



Bayi Baru Lahir Dibuang dalam Keadaan Hidup

Jika orang tua, dalam hal ini adalah ibunya membuang bayi yang baru ia lahirkan, maka ancaman pidananya terdapat dalam Pasal 308 KUHP yang berbunyi:

"Jika seorang ibu karena takut akan diketahui orang tentang kelahiran anaknya, tidak lama sesudah melahirkan, menempatkan anaknya untuk ditemukan atau meninggalkannya dengan maksud untuk melepaskan diri daripadanya, maka maksimum pidana tersebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi separuh."

Ancaman pidana maksimum dalam Pasal 305 KUHP (tentang menaruh anak di bawah umur tujuh tahun di suatu tempat agar dipungut orang lain dengan maksud terbebas dari pemeliharaan anak itu) adalah lima tahun enam bulan.

Sedangkan ancaman pidana maksimum yang terdapat dalam Pasal 306 ayat (1) KUHP (tentang melakukan perbuatan dalam Pasal 305 KUHP hingga menyebabkan si anak luka berat) adalah tujuh tahun enam bulan dan Pasal 306 ayat (2) KUHP (tentang melakukan perbuatan dalam Pasal 305 KUHP hingga menyebabkan si anak mati) adalah sembilan tahun.

Bayi Baru Lahir Dibuang dalam Keadaan Mati

Jika memang bayi itu dibuang dengan maksud menyembunyikan kematian dan kelahirannya, maka ancaman pidananya terdapat dalam Pasal 181 KUHP yang berbunyi:

"Barang siapa mengubur, menyembunyikan, membawa lari atau menghilangkan mayat dengan maksud menyembunyikan kematian atau kelahirannya, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah."

Terkait pasal ini mengatakan yang dikubur, disembunyikan, diangkut, dan dihilangkan itu harus “mayat”, sedangkan maksudnya adalah untuk “menyembunyikan” kematian atau kelahiran orang itu (Ibid, hal. 178).

Bila terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana “menyembunyikan kematian orang” sebagaimana disebut dalam Pasal 181 KUHP. Hakim menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 2 (dua) bulan 15 (lima belas) hari, menukil dari Hukumonline.com (*)

Berita Lainnya

Index