Mengenal Beruk Bokoi, Primata yang Hidup di Kepulauan Mentawai dan Berstatus Langka

Beruk Bokoi atau dengan nama latin Macaca Pagensis. (Foto: Dok. Istimewa/Jalantikus.com)
Beruk Bokoi atau dengan nama latin Macaca Pagensis. (Foto: Dok. Istimewa/Jalantikus.com)

HALONUSA.COM – Dua ekor beruk bokoi berjenis kelamin jantan dilepas di Taman Wisata Alam (TWA) Saibi Sarabua.

Hewan tersebut dilepas lagi ke alam setelah sebelumnya diserahkan oleh warga Kota Padang dan menjalani rehabilitasi dan habituasi selama lima tahun.

Primata yang hidup di Kepulauan Mentawai dan sudah masuk ke dalam hewan berstatus langka tersebut dilepasliarkan di Pulau Siberut.

Bacaan Lainnya

Beruk Bokoi atau yang memiliki nama latin Macaca Pagensis (Mentawai Island Macaque) merupakan hewan dengan ciri khas berwarna cokelat gelap pada bagian belakang sedangkan pada bagian leher, bahu dan bagian bawah berwarna cokelat pucat.

Kaki dari Bokoi juga berwarna coklat. Perbedaan bokoi dengan beruk jenis lain terletak pada rambut bagian pipi dan mahkota.

Bagian pipi bokoi berwarna lebih gelap daripada beruk lainnya, mahkota bokoi berwarna cokelat, rambut pada dahi lebih panjang. Bokoi memiliki kantong pipi yang terlihat lebih jelas dari hewan sebangsanya.

Punggung dan tangan dari hewan tersebut sering dijadikan untuk membawa makanan.

Hewan ini bersifat diurnal, arboreal dan terestrial dengan lebih berada banyak di tanah atau kanopi bawah.

Habitat bokoi berada di dataran rendah, hutan primer dan sekunder, pesisir, rawa hingga pengunungan dengan ketinggian 1.700 meter.

Untuk bertahan hidup, hewan ini lebih sering mengkonsumsi buah dan biji-bijian (73,8 persen), serangga, anak burung, kepiting, rayap (12,2 persen), daun-daunan (5,4 persen) dan tunas-tunasan (3 persen).

Hidup dari pantai hingga pegunungan dengan hidup berkelompok terdiri dari 15-40 individu.

Panjang badan Bokoi jantan dewasa berkisar antara 49-56 sentimeter dengan berat badan 6-14,5 kilogram, sedangkan untuk betina lebih kecil dari ukuran jantan.

Hewan ini memiliki masa kehamilan selama 171 hari dengan jarak kelahiran 12 hingga 24 bulan. Bokoi tidak memiliki masa kawin dan mampu hidup hingga 26 tahun.

Jumlah Bokoi betina lebih banyak ketimbang jantan dengan persentase satu jantan berbanding lima hingga delapan betina. Bokoi betina memiliki hirarki matrilineal.

Pos terkait