Pakaian Adat Bundo Kanduang Limpapeh Rumah Nan Gadang, Merupakan Akulturasi Islam dan Budaya Minangkabau 

Pakaian-Adat-Lintau-Buo-CosmoPhost-Halonusa-Ade-Yuandha-(@Ade_Yuandha)
Pakaian Adat Lintau Buo. Pakaian Adat Bundo Kanduang Limpapeh Rumah Nan Gadang, Merupakan Akulturasi Islam dan Budaya Minangkabau (Foto: Dok. CosmoPhost/Halonusa)

HALONUSA.COM – Tatanan ideal adat Mi­nang­kabau telah mengatur sedemikian rupa peran perempuan dalam kontek kema­syarakatan di Sumatera Barat.

Sistem kekerabatan Ma­tri­linial atau benasab kepa­da ibu menjadi pembeda yang kon­tras terkait posisi perem­puan Minangkabau dengan suku-suku lain yang ada di bumi nusantara.

Bacaan Lainnya

Oleh sebab itu Minangkabau menjunjung  tinggi  penghormatan terhadap perempuan yang  memiliki peranan penting yang tidak akan bisa lepas dari kaumnya.

Tingginya rasa hormat tersebut tidak hanya terucapkan dalam bentuk kata. Namun juga diaplikasikan dalam bentuk budaya, salah satunya melalui pakaian adat.

Pakaian adat untuk perempuan juga bisa disebut dengan pakaian adat Bundo Kanduang.

Pe­nger­tian Bundo Kanduang merujuk kepada per­kum­pulan perempuan-perempuan yang paling tua pada suatu kaum.

Baca Juga: Makna Tingkuluak Sebagai Penghargaan Tertinggi Terhadap Perempuan Minangkabau

Ada beberapa hal ter­kait dari fungsi Bundo Kan­duang  yaitu sebagai pene­rima waris dari Pusako Tinggi, menjaga keberlangsungan keturunan, dan sebagai per­lambang moralitas dari ma­sya­rakat Minangkabau.

Limpapeh Rumah Nan Gadang merupakan lambang kebesaran perempuan. Dalam bahasa Minang, Limpapeh berarti tiang tengah besar yang digunakan untuk menopang dari bangunan rumah adat Minangkabau.

Sebuah bangunan dapat berdiri kokoh karena ada tiang tengah yang menopang sekaligus menyangga semua kekuatan bangunan tersebut dan menjadi pusat kekuatan tiang-tiang lain.

Jika tiang tersebut patah, rusak atau hancur, maka bangunan tersebut akan runtuh karena tidak ada yang menyangga. Hal tersebut adalah sebuah  analogi dari peran ibu dalam sebuah keluarga.

Pos terkait