Pakaian Penghulu Sebagai Pemimpin Kaum di Minangkabau

Pakaian Penghulu Sebagai Pemimpin Kaum di Minangkabau
Kepala Kepolisian Daerah Sumatera Barat (Kapolda Sumbar) Irjen Pol Drs. Toni Harmanto, MH beserta istri Ny. Yesika Toni mendapatkan penghargaan oleh Niniak Mamak Nan Salapan Puluah Nagari Paninjauan Kec. X Koto Kabupaten Tanah Datar, Senin (28/6/2021). Pa
HALONUSA.COM - Minangkabau adalah salah satu suku bangsa yang ada di Nusantara, memiliki banyak kekayaan budaya dan tradisi dengan filosofi yang menjadi wujud dari keagungan tradisi dan budayanya. Termasuk dalam hal pakaian adatnya yaitu pakaian Penghulu.

Pakaian Penghulu merupakan pakaian adat Minangkabau yang digunakan oleh kaum pria, pakaian ini hanya digunakan oleh tetua adat atau orang tertentu, dimana dalam cara pemakaiannya pun diatur sedemikian rupa oleh hukum adat.

Pakaian Penghulu tidak hanya dilihat sebagai sebuah benda yang berguna untuk menutupi seluruh tubuh dan keindahan saja, tetapi sama halnya dengan kebudayaan.

Dalam hal lain pakaian ini juga mempunyai nilai-nilai luhur dan pesan-pesan penting yang terkandung dari warisan budaya leluhur secara turun temurun.

Baca Juga: Pakaian Adat Bundo Kanduang Limpapeh Rumah Nan Gadang, Merupakan Akulturasi Islam dan Budaya Minangkabau

Sebagaimana yang kita ketahui dan kita lihat, pakaian Penghulu Minangkabau bukan hanya sebuah pakaian yang dibuat untuk seorang Penghulu.

Melainkan dibalik pembuatan pakaian tersebut terdapat hikmah dan falsafah yang mengandung ajaran-ajaran bagi si pemakainya (Penghulu).

Pada pakaian itu terkandung banyak sekali rahasia yang menyangkut sifat-sifat dan martabat serta larangan seorang Penghulu begitupun tugasnya dan kepemimpinannya dalam kutipan Idrus Hakimy Dt. Rajo, Penghulu, 2001:104-105.

Pakaian penghulu di setiap daerah hampir bersamaan bentuknya, walaupun di daerah-daerah lain terdapat beberapa variasi.

Dalam menciptakan bentuk dan nama dari seperangkat pakaian penghulu tersebut, nenek moyang orang Minangkabau dahulunya tidak menciptakannya dengan mudah, tetapi melalui berbagai tahap atau proses yang sangat panjang.

Untuk pengesahannya diperlukan juga kesepakatan yang terkandung dalam pakaian penghulu, yakni berisikan pesan dan nilai-nilai luhur yang telah diamanatkan kepada masyarakat tersebut.

Di Minangkabau, pemimpin kelompok berdasarkan sistem matrilineal adalah mamak atau paman, yaitu saudara laki-laki dari ibu. Ada mamak rumah yang disebut Tungganai.

Ada mamak kaum atau mamak suku yang dinamakan Penghulu di mana seorang Penghulu juga merupakan pemangku adat dan bergelar Datuak.

Seorang Penghulu dipilih berdasarkan kesepakatan kaum yang tugasnya adalah memimpin seluruh anggota kaumnya.

Baca Juga: 4 Tingkatan Adat Minangkabau yang Menjadi Falsafah Kehidupan Hingga Sekarang

Ia berkewajiban menyelesaikan setiap masalah, persoalan, bahkan perselisihan yang terjadi pada kaumnya.

Sebagai pemimpin ia diangkat dalam suatu upacara yang dinamakan Batagak Penghulu. Dalam acara ini ia diwajibkan memakai pakaian kebesaran Penghulu.

Baju Penghulu memiliki warna hitam yang melambangkan ketegasan dan kepemimpinan. Kaum pria merupakan pemimpin wanita.

Di samping itu, karena baju ini hanya boleh digunakan  pemimpin dalam suatu kaum, maka baju ini juga melambangkan kepemimpinan.

Namun di jaman sekarang pakaian ini bisa juga digunakan oleh mempelai pria saat menikah. Ada beberapa pelengkap baju Penghulu, sebagaimana penjelasan yang akan kita bahas di bawah ini.

Pakaian Adat Penghulu Sebagai Pemimpin Kaum


Para pria Minangkabau atau di Sumatera Barat pada umumnya menggunakan baju Penghulu untuk pakaian adat. Simak penjelasan singkat tentang pakaian adat ini beserta aksesoris pendukungnya:

Baju Penghulu


Baju ini hanya digunakan oleh para kepala suku atau para pemangku adat di masa lalu. Warna pakaian adat ini berwarna hitam karena melambangkan kepemimpinan.

Pakaian adat Penghulu ini merupakan baju kebesaran masyarakat Minangkabau dan tidak sembarangan orang dapat memakainya. Terdapat aturan dan tata cara yang telah digariskan oleh adat Minang.

Busana ini terbuat dari bahan dasar yaitu kain beludru, lengkap dengan aksesoris yang digunakan. Adapun berbagai macam aksesoris yang digunakan akan kita bahas di daftar selanjutnya.

Sarawa


Sarawa merupakan bagian bawahan yang digunakan pada saat pemakaian baju Penghulu. Bawahan ini berupa celana yang mempunyai ukuran cukup besar pada bagian kakinya.

Pemilihan ukuran celana ini memiliki filosofi. Artinya kebesarannya dalam memenuhi segala panggilan dan sebagai contoh yang patut di contoh dalam masyarakat sebagai pemangku adat.

Deta atau Destar


Destar atau deta merupakan penutup kepala yang dapat disamakan sebagai perhiasan yang digunakan oleh kaum pria.

Deta ini dapat dibedakan dari bentuk dan bagian yang dapat memperlihatkan status seseorang yang memakainya, seperti deta:

  • Raja alam

  • Gadang (deta besar) yang digunakan Penghulu

  • Indomo saruaso yang bernama deta ameh (deta emas) dan lain sebagainya


Dtea terbuat dari kain berwarna hitam yang dililitkan secara rapi dan hati-hati sehingga menghasilkan banyak kerutan.

Kerutan tersebut bukan hanya sekedar kerutan, tetapi mengandung arti berapa banyak undang-undang yang diketahui oleh seorang Penghulu. Banyaknya kerutan juga menggambarkan akal budi seorang Penghulu dalam segala lapangan.

Sasampiang


Sasampiang atau sesamping merupakan sebuah kain yang diletakkan di bahu sebagai pelengkap baju Penghulu.

Kain ini memiliki warna merah yang berarti seorang Penghulu pemberani. Terdapat benang makau atau benang warna-warni dengan ukuran yang cukup kecil. Benang ini mempunyai arti sebagai ilmu dan keberanian di atas kebenaran.

Cawek & Sandang


Cawek merupakan ikat pinggang dalam baju adat Penghulu yang terbuat dari kain. Bagian ujungnya terdapat jumbai-jumbai dan hiasan pucuk rebung. Cawek sendiri memiliki arti bahwa Penghulu harus cakap dan sanggup menunjukan akal budinya.

Sandang adalah pelengkap baju Penghulu berupa kain berwarna merah yang dikenakan pada pinggang dengan cara diikatkan. Kain tersebut memiliki bentuk segi empat.

Terdapat makna dalam pemakaian sandang pada baju Penghulu yaitu seorang Penghulu harus wajib dan patuh pada hukum adat yang ada di masyarakat Minang.

Keris atau Karih


Selain berbagai busana dan kain yang digunakan, terdapat aksesoris senjata berupa keris yang disisipkan pada pinggang. Keris tidak diperuntukan dan digunakan oleh sembarang orang.

Terdapat aturan khusus seperti meletakan keris yang harus ke kiri bukan ke kanan. Walaupun sebenarnya lebih mudah mengambil keris jika diletakkan ke kanan.

Aturan tersebut memiliki arti bahwa para Penghulu harus berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Selain itu keris memiliki arti sebagai bentuk kepemimpinan yang merupakan sebuah amanah dan tanggung jawab yang besar.

Tungkek atau Tongkat


Tungkek atau tongkat merupakan salah satu pelengkap yang ada dalam pemakaian baju Penghulu. Tongkat ini digunakan untuk menunjukan Penghulu memiliki wibawa yang tinggi dan seseorang yang dituakan dalam masyarakat tersebut.

Falsafah Pakaian Rang Pengulu Di Dalam Luhak Tanah Minang Jikok Ambalu Maratak Hulu, Puntiang Tangga Mati Tabuang, Kalau Kulik Manganduang Aia, Lapuak Nan Sampai Kapanguba, Binaso Tareh Nan Di Dalam, Jikok Pangulu Bapaham Caia, Jadi Sampik Alan Nan Leba, Lahia Batin Dunia Tanggalam. (*)

Berita Lainnya

Index