Pengamat Politik: Petahana Tumbang Pilkada Serentak karena Covid-19

Masyarakat Indonesia menggunakan hak memilih pada pemilihan umum serentak 2020 di masa pandemi virus Covid-19 dengan mematuhi protokol kesehatan di Kelurahan Limau Manis Selatan, Kecamatan Pauh, RT2/RW2, Kota Padang, Sumatera Barat on December 9, 2020. | Tan/Halonusa
Masyarakat Indonesia menggunakan hak memilih pada pemilihan umum serentak 2020 di masa pandemi virus Covid-19 dengan mematuhi protokol kesehatan di Kelurahan Limau Manis Selatan, Kecamatan Pauh, RT2/RW2, Kota Padang, Sumatera Barat on December 9, 2020. | Tan/Halonusa

HALONUSA.COM – Penantang sekaligus pendatang baru dalam Pilkada serentak 2020 di Sumatera Barat (Sumbar), membuktikan bahwa tidak selamanya petahana bisa kembali memimpin.

Hal itu dikemukakan pengamat politik dari Universitas Negeri Padang (UNP), Eka Vidya, Rabu (16/12/2020).

Bacaan Lainnya

“Situasi saat ini justru penantang mampu meyakini masyarakat agar beralih dukungan kepada mereka,” katanya.

Baca juga: Pilkada Serentak 2020, Benarkah Wakil Gubernur Sumbar 2016-2021 Tumbang?

Meneguhkan hati masyarakat, akhirnya mereka diyakini rakyat untuk memimpin daerah lima tahun ke depan.

Eka mengakui, situasi pandemi Covid-19 memang menjadi tantangan para kandidat saat Pilkada serentak 2020.

Masyarakat merasakan berbagai dampak terkait hal itu.

“Kita bisa lihat dampak dari pandemi corona, banyak yang di rumahkan, lapangan kerja pun terbatas, bahkan harga-harga melambung dan pemulihan ekonomi pun masih jalan di tempat apalagi kesehatan,” terang Eka.

Baca juga: Ikut Kontestasi Pilkada Serentak 2020, Nasib Anggota DPRD Harap-Harap Cemas

Menurutnya, salah satu kegagalan petahana karena kharisma dalam situasi pandemi.

“Semestinya kondisi seperti ini menjadi momentum bagi mereka, walau memang dikerjakan tetapi ada komunikasi yang terputus dengan rakyat. Bisa saja,” tuturnya.

Baca juga: Mahyeldi-Audy Deklarasikan Kemenangan Pilgub Sumbar, Unggul Real Count 32,64 Persen

Sambungnya, “Masa-masa kampanye yang singkat seharusnya jadi peluang dari petahana saat mencalonkan diri, tetapi nyatanya tidak mampu mempertahankan posisi itu. Akhirnya penantang yang merebut kemenangan itu sendiri”. (gon) 

Pos terkait