Randang si Pangulu Samba

  • Whatsapp
Randang si Pa'hulu Samba
Marandang, demikian orang Minang menyebut proses pembuatan daging berkuah kering berwarna cokelat tua dan pekat kehitaman, kemudian disebut Randang. | Kariadil Harefa/Halonusa.com

HALONUSA.COM – Marandang, demikian orang Minang menyebut proses pembuatan daging berkuah kering berwarna cokelat tua dan pekat kehitaman, kemudian disebut Randang.

Pa’hulu Samba (masakan Minang) ini nyaris hilang di abad ke-18, dipicu persengketaan kebudayaan Lusio-Asia bawaan Portugis kala menduduki Malaka abad ke-16 bertarung melawan perantau kala berniaga di wilayah ini.

Baca juga: Keren, Jemaah Berangkat Haji Maupun Umrah Diberi Kado, Mahyeldi: Kita Sediakan Rendang

Daging berkuah kering itu kadang dihadirkan simbolik bagi sekumpulan masyarakat yang tak kuat keuangannya bilamana ada pesta adat atau prosesi keagamaan.

Membuatnya dari kulit batang kayu lalu menyirami kuah Randang. Seperti di Payakumbuh kala itu, ini memang terjadi dan tidak diperdebat panjang.

Randang bisa ditemui di sekumpulan toko di dataran Eropa, Amerika apalagi Sumatra. Namun, tak senikmat olahan masakan Minang yang lebih awal ada.

Bahkan lebih tua dari tutur kejuangan kebangkitan Islam, dalam telik Amir Hamzah, perwira pejuang Islam, yang populer 1511 dan lebih jauh lagi sebelum kedatangan Gordon Ramsay (@gordongram) di dataran Sumatra di Minangkabau 2020.

Baca juga: Tingkatkan Kualitas Produksi, LPPM-Unand Berikan Pendampingan Komunitas Rendang Minang

Ramsay juru masak selebriti dan pengusaha restoran yang dikenal melalui acara TVnya “Hell’s Kitchen”, “The F Word”, “Kitchen Nightmares” dan “MasterChef”.

Ramsay lahir di Skotlandia namun dibesarkan di Inggris di kota Stratford-upon-Avon ketika berusia lima tahun.

Pos terkait