Sampah Harta Karun Terpendam

Sampah Harta Karun Terpendam
Ilustrasi: Seorang mengumpulkan sampah di Pantai padang
HALONUSA.COM - Bagi kebanyakan orang, sampah adalah sesuatu hal yang dirasa menjijikkan, karena statusnya merupakan bekas pemakaian.

Tapi tidak bagi Ema Latief. Sampah baginya adalah harta karun terpendam. Ia rela mencarinya setiap hari.

"Bagi saya, sampah adalah harta karun terpendam yang tidak banyak diketahui oleh banyak orang," kata perempuan yang menjadi Ketua Organisasi Daur Ulang Produkstif (ODUP) saat pertemuan diskusi lingkungan bersama Coca-Cola, Minggu (7/8/2022).

Ema menuturkan, sampah yang biasanya dibuang oleh kebanyakan orang, akan ia pilah untuk mendapatkan harta karunnya.

Setiap kali hujan deras, merupakan momen baginya untuk mendapatkan harta karun yang sangat berharga itu.

"Biasanya kalau hujan deras kan air sungai melauap dan akan membawa banyak sampah, itu adalah momen kami," lanjutnya.

Ema bersama beberapa orang lainnya akan menunggu di muara sungai untuk mencari sampah terbaik yang terseret oleh arus sungai yang deras.

"Kami biasanya mencari sampah berbentuk kayu dan sampah unik lainnya yang akan kami olah dan dijadikan sebagai souvenir," lanjutnya.

Setelah mendapatkan harta karun tersebut, Ema akan kembali ke kediamannya untuk mengolah sampah tak berguna itu menjadi sebuah karya yang bisa dijual dengan harga tinggi.

"Setelah diolah menjadi sebuah karya, nanti kami akan menjualnya kepada kolektor yang mencintai karya seni yang unik," lanjutnya.

Dari penjualan sampah tersebut, Ema akan mendapatkan sejumlah uang yang bisa ia gunakan untuk menghidupi keluarganya.

Sampah Jawaban Masalah Ekonomi

Setelah dilanda pandemi Covid-19, masyarakat Indonesia mengalami keterpurukan ekonomi yang cukup dalam.

Banyak masyarakat yang kehilangan mata pencaharian karena perusahaan yang melakukan PHK terhadap karyawannya.

Sampah, bisa menjadi salah satu solusi dalam mengatasi permasalahan perekonomian masyarakat tersebut.

Wali Kota Metro Lampung, Wahdi Siradjuddin menyatakan, bahwa dengan melangsungkan ekonomi sirkular, maka sampah bisa menjadi salah satu komoditi yang bisa menghasilkan uang.

Bagaimana tidak, dengan mengumpulkan beberapa jenis sampah, maka masyarakat bisa menghasilkan uang dengan melakukan daur ulang atau membuatnya menjadi sebuah karya seni.

"Ekonomi sirkular ini kalau dilaksanakan dengan baik, maka akan bisa menghasilkan sebuah ladang baru bagi masyarakat," katanya.

Menurutnya, yang jadi titik permasalahan dalam pengembangan ekonomi sirkular adalah penampung dari sampah yang dikumpulkan oleh masyarakat.

"Yang penting itu bagaimana nantinya masyarakat menjual sampah tersebut. Seperti sampah botol plastik, apakah pihak perusahaan berkenan untuk menerimanya," katanya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Coca-Cola, Dedi Nugroho mengatakan, bahwa pihaknya memiliki komitmen Zero Waste.

"Di mana, sampah bukan masalah, tetapi jadi sesuatu bernilai ekonomis. Coca-Cola melakukan terobosan dengan program 100 persen botol berasal dari bahan baku daur ulang," katanya.

Dengan begitu, pola tersebut akan menjadi langkah penting dalam mengurangi sampah plastik yang menyebabkan sumbatan saluran air di banyak negara, termasuk Indonesia.

Hentikan Sampah Sampai ke Laut

Sampah adalah salah satu hal yang sangat bertentangan dengan ekosistem laut. Karena keberadaan sampah sangat membahayakan seluruh ekosistem yang ada di dalam lautan.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Komunitas Jambak Sea Turtle Camp, Pati Hariyose pada kesempatan yang sama.

Menurutnya, keberadaan sampah di laut sangat berbahaya bagi hewan yang ada di lautan, terutama bagi penyu yang saat ini dilindungi seluruh pemerintahan dunia.

"Penyu adalah pemakan ubur-ubur. Sampah plastik yang ada di laut itu akan mengambang seperti ubur-ubur dan penyu akan mengejarnya. Setelah itu, penyu akan terperangkap di dalamnya dan bisa mengakibatkan kematian," katanya.

Pria yang akrab disapa Yose itu mengatakan, bahwa dirinya sangat setuju dengan pola ekonomi sirkular yang bisa menjawab permasalahan sampah di laut.

"Kalau memang ekonomi sirkular ini bisa berjalan dengan baik, maka nelayan yang pergi melaut tidak hanya pergi menangkap ikan, tetapi juga sampah plastik yang ada di lautan," katanya.

Dengan begitu, permasalahan perekonomian akan teratasi dan juga permasalahan laut dengan sampah secara otomatis juga akan teratasi. (*)

Berita Lainnya

Index