Sejarah Cagar Budaya Bekas Istana Kerajaan Inderapura di Kabupaten Pesisir Selatan

Sejarah Cagar Budaya Bekas Istana Kerajaan Inderapura di Kabupaten Pesisir Selatan
Sejarah Cagar Budaya Bekas Istana Kerajaan Inderapura di Kabupaten Pesisir Selatan (FOTO: BPCB Sumbar)|Sejarah Cagar Budaya Bekas Istana Kerajaan Inderapura di Kabupaten Pesisir Selatan (FOTO: BPCB Sumbar)|Sejarah Cagar Budaya Bekas Istana Kerajaan Indera
HALONUSA.COM  - Bekas Istana Kerajaan Inderapura menjadi salah satu cagar budaya tidak bergerak yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat (Sumbar).

Bekas Istana Kerajaan Inderapura tercatat sebagai cagar budaya di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar dengan nomor inventaris 07/BCB-TB/A/14/2007.

Lokasi Bekas Istana Kerajaan Inderapura ini tepatnya berada di Jalan Muaro Sakai, Dusun Jorong Muaro Sakai, Desa/Kelurahan Nagari Inderapura, Kecamatan Airpura.

Secara astronomis, cagar budaya ini berada di titik: S 2° 5' 17.498" E 101° 9' 33.001".

Sedangkan secara geografis, situs cagar budaya Bekas Istana Kerajaan Inderapura, ini berada dalam bentang alam dataran rendah dengan elevasi 13 Mdpl.

Bekas Istana Kerajaan Inderapura ini memiliki luas bangunan 28 m x 18 meter lahan 200 m x 60 m (12.000 m²).

Untuk sampai ke lokasi bekas Istana Inderapura cukup mudah, karena tidak jauh dari jalan raya, berada di pemukiman padat penduduk, dapat ditempuh kendaraan roda dua atau roda empat.

Pemilik Bekas Istana Kerajaan Inderapura adalah Warning dan dikelola oleh Warning.



Sejarah atau Historis

Kerajaan Inderapura merupakan salah satu kerajaan di Ranah Pesisir Minangkabau.

Secara historis kerajaan ini masih memiliki hubungan dengan Kaum Rumah Gadang Mandeh Rubiah di Lunang serta dengan Kerajaan Pagaruyung di Tanah Datar.

Dalam beberapa cerita di masyarakat ada yang mengatakan kalau Kerajaan Inderapura berada dibawah kekuasaan Pagaruyung, tetapi sampai saat ini tidak satupun bukti yang dapat membuktikan Kerajaan Inderapura ini tunduk kepada Kerajaan Pagaruyung.

Situs Kesultanan Inderapura terletak di wilayah Pesisir Barat  Sumatera, tepatnya di perbatasan Sumatera Barat dan Bengkulu sekarang.

Pusat kekuasaannya berada pada wilayah muara sungai yang sekarang juga bernama Inderapura, Kecamatan Pancung Soal, Kabupaten Pesisir Selatan.

Di ujung sungai ini mengarah ke laut dengan muara yang lebih lebar dan merupakan pertemuan dua buah muara sungai, yaitu Muara Sakai dan Muara Bantaian yang mengalir dari Air Haji.

[caption id="attachment_20933" align="aligncenter" width="600"]Sejarah Cagar Budaya Bekas Istana Kerajaan Inderapura di Kabupaten Pesisir Selatan (FOTO: BPCB Sumbar) Sejarah Cagar Budaya Bekas Istana Kerajaan Inderapura di Kabupaten Pesisir Selatan (FOTO: BPCB Sumbar)[/caption]

Dalam beberapa penulisan disebutkan bahwa pada abad ke-9 M, kerajaan Inderapura didirikan oleh Sultan Muhammad Syah, anak bungsu dari Sultan Maharaja Diraja yang merupakan putra Iskandar Zulkarnaini, dan berkedudukan di Air Pura sebagaimana yang disebutkan terdahulu.

Keberadaan Inderapura sebagai kerajaan Islam sejak abad ke-16 terutama sejak perubahan kerajaan menjadi kesultanan, agaknya sulit untuk diragukan.

Beberapa naskah dan sumber lokal lainnya menjelaskan bahwa perubahan sebutan kerajaan Air Pura menjadi Kesultanan Inderapura dapat menjadi bukti untuk itu.

Perubahan kerajaan menjadi kesultanan itu terjadi pada awal abad ke-16, yaitu pada masa pemerintahan Sultan ke-11 kerajaan Air Pura, bersama Sultan Sakelab Dunia dengan gelar Sultan Iskandar Johan Berdaulatsyah.

Berdasarkan penelitian yang dilaksanakan oleh Tim peneliti Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Sumbar pada tahun 2004.

Dalam laporan penelitian ini disebutkan bahwa kerajaan Air Pura sudah berdiri semenjak abad ke-9 SM.

Sedangkan perubahan nama menjadi Kerajaan Melayu Air Pura terjadi pada abad ke-12, yaitu di masa pemerintahan Sultan Zatullah.



Selain itu, dalam Naskah Inderapura disebutkan bahwa penggantian nama Air Pura menjadi Inderapura terjadi pada masa pemerintahan Sultan Inayat Syah (1357 M), tanpa menjelaskan apakah pada waktu ini sekaligus dilakukan penggantian sebutan kerajaan menjadi Kesultanan atau tidak.

Jika dilihat secara umum sistem birokrasi pemerintahan di Kesultanan Inderapura, maka dapat dikelompokkan menjadi tiga fase.

Fase pertama adalah sistem pemerintahan kerajaan lama, jika sumber-sumber yang dijadikan rujukan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, maka masa pemerintahan kerajaan lama ini berlangsung dari abad 9 SM hingga abad 16 M

Fase kedua, masa pemerintahan Kesultanan, yaitu dari abad 16 M hingga abad 19 M, sedangkan fase ketiga adalah masa pemerintahan keregenan yang berangsung dari abad 19 M hingga awal abad 20 M.

Kesultanan Inderapura sejak dipimpin oleh Sultan Sekelab Dunia yang bergelar Sultan Iskandar Johan Berdaulat Syah, pada awal abad ke-16 M resmi berbentuk kesultanan.

Sebagai kerajaan Islam, terdapat 2 (dua) raja yang terkenal dengan alimnya, di Kesultanan Inderapura dua orang sultan yang sangat dikenal alim, taat beribadah, penuh kharisma, dan adil dalam mengayomi rakyat yaitu Sulthan Mohammad Arifin syah Gelar Sulthan Mohammadsyah (1840-l860), dan Sulthan Mohammad Bakhi, Gelar Sulthan Firmansyah Raja Terakhir di Inderapura (1860-1891).

Deskripsi Arkeologis

Bangunan istana kerajaan Indrapura tersebut sekarang sudah tidak ada lagi, kerajaan ini dirobohkan karena tidak layak lagi untuk dipakai.

[caption id="attachment_20934" align="aligncenter" width="600"]Sejarah Cagar Budaya Bekas Istana Kerajaan Inderapura di Kabupaten Pesisir Selatan (FOTO: BPCB Sumbar) Sejarah Cagar Budaya Bekas Istana Kerajaan Inderapura di Kabupaten Pesisir Selatan (FOTO: BPCB Sumbar)[/caption]

Sisa-sisa bangunan yang masih ada tinggal berupa satu buah meriam, fondasi, bekas tangga.

Dan dapur Sisa-sisa fondasi istana membentuk denah empat persegi panjang berukuran 28 x 18 meter.

Bekas tangga pintu masuk berada dibagian muka sebanyak dua buah (sepasang).

Tangga ini terbuat dari dari batu berlepa semen, berukuran lebar 1,6 meter, tinggi 95 cm, tebal dinding 15 cm.

Pada bagian atas terdapat 5 dan pada bagian bawah terdapat dua undak, kerajaan ini memiliki delapan kamar, empat kiri dan empat kanan.

Pada sebelah barat bekas tangga pintu masuk sebelah barat terdapat sebuah meriam yang dahulu milik kerajaan.

Meriam tersebut berada dalam cungkup perlindungan.

Fungsi

Fungsi awal: Istana atu hunian

Fungsi sekarang : Pariwisata, Pendidikan

Sumber: BPCB Sumbar

Berita Lainnya

Index