Sejarah Cagar Budaya Masjid Al Imam Kotobaru di Kabupaten Pesisir Selatan

Sejarah Cagar Budaya Masjid Al Imam Kotobaru di Kabupaten Pesisir Selatan
Sejarah Cagar Budaya Masjid Al Imam Kotobaru di Kabupaten Pesisir Selatan (FOTO: BPCB Sumbar)|Sejarah Cagar Budaya Masjid Al Imam Kotobaru di Kabupaten Pesisir Selatan (FOTO: BPCB Sumbar)
HALONUSA.COM  - Masjid Al Imam Kotobaru menjadi salah satu cagar budaya tidak bergerak yang ada di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat (Sumbar).

Masjid Al Imam Koto Baru tercatat sebagai cagar budaya di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar dengan nomor inventaris 10/BCB-TB/A/14/2007.

Lokasi Masjid Al Imam Kotobaru ini tepatnya berada di Jalan Tuanku Umar Kambang, Dusun Jorong Koto Baru, Desa/Kelurahan Nagari Kambang, Kecamatan Lengayang.

Secara astronomis, cagar budaya ini berada di titik: S 1° 40' 14.639" E 100° 45' 26.474".

Sedangkan secara geografis, situs cagar budaya Masjid Al Imam Koto Baru, Masjid ini terletak di dalam bentang alam dataran rendah dengan elevasi 15 Mdpl.

Masjid Al Imam Koto Baru ini memiliki luas bangunan 18 m x 18 m (324 m²) lahan 30 m x 30 m (900 m²).

Untuk mencapai lokasi Masjid tidak jauh dari jalan raya, untuk menuju ke lokasI Masjid dapat menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat.

Pemilik Masjid Al Imam Koto Baru adalah Masyarakat Nagari Kambang dan dikelola oleh Pengurus Masjid dan BPCB Sumatera Barat.

Sejarah atau Historis

Menurut informasi masyarkat, Masjid ini dibangun pada tahun 19246 bersamaan dengan lahir dan berkembangnya Nagari Kambang.

7 Elemen pada bangunan masjid ini memiliki nilai falsafah bagi masyarakat Kambang.

Deskripsi Arkeologis

Denah bangunan masjid berbentuk bujur sangkar, dengan ruang utama di bagian tengah tidak terdapat dinding pembatas, sehingga merupakan ruangan yang terbuka.

Di sisi barat terdapat mihrab, sedangkan di bagian kanan dan kiri bangunan terdapat ruangan samping yang membentuk selasar.

Selasar di bagian Timur seolah-olah menjadi lorong karena tertutup oleh bangunan tambahan berupa bangunan tempat berwudhu.

Dinding terbuat dari bata lepas berukuran relatif tebal, sekitar 30 cm, dinding masih asli belum pernah diganti sejak semula dengan cat berwarna putih.

Perubahan pada bagian dinding terutama pada sisi dalam yang diberi tambahan keramik pada bagian bawah setinggi 1 meter.

[caption id="attachment_20947" align="aligncenter" width="600"]Sejarah Cagar Budaya Masjid Al Imam Kotobaru di Kabupaten Pesisir Selatan (FOTO: BPCB Sumbar) Sejarah Cagar Budaya Masjid Al Imam Kotobaru di Kabupaten Pesisir Selatan (FOTO: BPCB Sumbar)[/caption]

Tiang utama pada ruang utama terdapat 9 buah yang melambangkan jumlah Koto (Kampung) yang ada pada waktu itu di Nagari Kambang.

Tiang yang berderet di depan dekat mihrab sebanyak 14 buah yang melambangkan jumlah penghulu yang berjumlah 14 orang yang berasal dari 4 suku, yaitu suku Kampai Tangah, suku Panai, suku Tigolareh, dan suku Malayu.

Adapun jumlah tiang yang ada di sisi luar sebelah timur, utara, dan selatan berjumlah 50 buah yang melambangkan jumlah gelar ninik mamak atau mamak kaum yang ada di Nagari Kambang pada waktu itu.

Lantai ruangan utama menggunakan keramik Belanda yang terdapat tiga motif keramik, yaitu warna hitam, biru, dan coklat.

Pada bagian tengah umumnya menggunakan keramik warna biru, bagian belakang warna hitam, dan bagian belakang mihrab menggunakan warna coklat.

Pintu dan jendela sudah mengalami pergantian hanya jendela di samping kanan dan kiri bagian mihrab yang agaknya masih merupakan jendela yang asli dengan daun jendela berbentuk jalusi dari kayu.

Atap berupa atap seng tumpang lima yang melambangkan bahwa Nagari Kambang memiliki lima buah masjid adat.

Fungsi

Funsi Masjid ini dari dulu sampai sekarang sebagai tempat beribadah

Sumber: BPCB Sumbar

Berita Lainnya

Index