Sejarah Cagar Budaya Rumah Gadang Muh Soleh di Kota Pariaman

Sejarah Cagar Budaya Rumah Gadang Muh Soleh di Kota Pariaman
Cagar Budaya Rumah Gadang Muh Soleh di Kota Pariaman.|Cagar Budaya Rumah Gadang Muh Soleh di Kota Pariaman.|Cagar Budaya Rumah Gadang Muh Soleh di Kota Pariaman.
SEMANGAT DATA - Rumah Gadang Muh. Soleh menjadi salah satu cagar budaya tidak bergerak yang ada di Kota Pariaman, Sumatra Barat (Sumbar).

Rumah Gadang Muh. Soleh tercatat sebagai cagar budaya di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar dengan nomor inventaris 25/BCB-TB/A/07/2007.

Lokasi Rumah Gadang Muh. Soleh ini tepatnya berada di Sutan Syahril – Kelurahan Kampung Perak, Kecamatan Pariaman Tengah, Kota Pariaman, Sumatera Barat.

Secara astronomis, cagar budaya ini berada di titik: S0° 37' 34.551" dan E100° 7' 5.636".

Baca: Sejarah Cagar Budaya Ruko Hj Puti Ramala di Kota Pariaman

Sedangkan secara geografis, situs cagar budaya Rumah Gadang Muh Soleh berada di dataran rendah dengan ketinggian 8 mdpl serta bentang lahan datar.

Rumah Gadang Muh Soleh ini memiliki luas bangunan 312 meter persegi di lahan 65 x 43 meter (2.795 meter persegi). Bangunan ini mudah dijangkau dan dapat diakses menggunakan kendaraan roda 4 dan 2.

Pemilik Rumah Gadang Muh Soleh adalah Ahli Waris Mohammad Sholeh, dan dikelola oleh ahli waris (keturunan) Mohammad Sholeh.

[caption id="attachment_227" align="alignnone" width="396"]Cagar Budaya Rumah Gadang Muh Soleh di Kota Pariaman Cagar Budaya Rumah Gadang Muh Soleh di Kota Pariaman.[/caption]

Sejarah atau Historis

Pariaman adalah sebuah kota pelabuhan (entrepot) yang sudah tua usianya. Kota ini pernah melahirkan seorang pedagang besar pada abad ke-19, yaitu Moehammad Saleh Datoek Orang Kaya Besar.

Moehammad Saleh lahir tahun 1841 di Desa Pasir Baru, Pariaman. Ayahnya, Peto Rajo, juga seorang pedagang, adalah penduduk Pariaman asli.

Namun, ayah Peto Rajo adalah keturunan seorang raja di Rigah, Rantau Duabelas, Aceh Barat. Tarus, Ibu Moehammad Saleh, berasal dari Guguak Ampek Koto, dekat Bukittinggi. Mungkin keluarga Tarus telah hijrah ke Pariaman akibat Perang Padri.

Usaha Moehammad Saleh dirintis dari seorang penghela pukat di Pantai Pariaman sampai akhirnya menjadi seorang pedagang besar yang mempunyai beberapa perahu.

Baca: Sejarah Cagar Budaya Rumah Mohd Hassan Saleh di Kota Pariaman

Saleh mempunyai beberapa toko di Pariaman dan Padang Panjang. Anak buahnya di darat dan di laut mencapai puluhan orang. Bahan dagangannya berupa hasil bumi.

Moehammad Saleh juga dipercaya oleh Belanda untuk mendistribusikan garam ke darek.

Selama hidupnya Moehammad Saleh menikah sebanyak 14 kali. Gelar kebesarannya (bahasa Minang: Datuak Urang Kayo Basa) diperoleh pada bulan Oktober 1877, dalam upacara khitanan anak pertamanya, Moehammad Taib (lahir pada  6 Syaban 1281 H dari istri yang kedua, Banoe Idah).

Kekayaan Moehammad Saleh dapat dikesan dari dua rumah besar (yang satu bernama rumah batu tinggi) milik keluarga besarnya di Pariaman.

[caption id="attachment_228" align="alignnone" width="372"]Cagar Budaya Rumah Gadang Muh Soleh di Kota Pariaman Cagar Budaya Rumah Gadang Muh Soleh di Kota Pariaman.[/caption]

Moehammad Saleh meninggal di Pariaman tahun 1922 dalam usia 81 tahun. Sampai sekarang cerita mengenai Moehammad Saleh tetap hidup di kalangan generasi tua di Kota Pariaman.

Bangunan rumah gadang ini sendiri dibangun sekitar tahun 1889 yang dibangun oleh Mohammad Sholeh.

Sedang pertokoan yang berada di sisi barat bangunan rumah gadang dibangun sekitar tahun 1901.

Berdasarkan angka tahun 19-6-1901 di tembok pertokoan diperkiraan pertokoan ini dibangun tahun 1901.

Baca: Sejarah Cagar Budaya Kompleks Rumah Cik Tolek di Kota Pariaman

Deskripsi Arkeologis

Bangunan Rumah Gadang Mohammad Sholeh berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu dengan ukuran panjang 30 meter dan lebar 10,5 meter.

Arsitektur dari rumah gadang ini merupakan perpaduan arsitektur tradisional dengan arsitektur kolonial.

Arsitektur tradisional tercirikan pada bentuk bangunan yang berupa rumah panggung serta ukiran-ukiran yang dipergunakan, sedangkan ciri bangunan kolonial dapat diamati pada bagian jendela dan pintu dengan ukuran yang besar.

Untuk menaiki rumah ini terdapat dua akses yang dapat dilalui yaitu tangga yang terdapat di kiri dan kanan beranda.

Beranda yang besar ini pada kiri dan kanannya terdapat dua buah kamar. Masuk ke dalam pertama kali ditemui adalah ruang tamu yang dapat diakses melalui tiga buah pintu pada bagian depan.

Baca: Sejarah Cagar Budaya Bioskop Garuda di Kota Pariaman

Kemudian satu buah pintu menghubungkan antara ruang tamu dengan ruang keluarga yang cukup besar yang dikelilingi oleh empat buah kamar.

Di bagian belakang terdapat dapur yang dindingnya sudah terbuat dari susunan bata berplester dan langsung berbatasan dengan jalan M. Jamil.

Bersama dengan bangunan utama terdapat bangunan lainnya antara lain yang berada di sisi selatan yang dahulu berfungsi sebagai gudang.

Bangunan ini memiliki gaya arsitektur kolonial dengan tiang-tiang di bagian terasnya, saat ini difungsikan sebagai rumah kontrakan.

Fungsi

Bangunan ini saat ini berfungsi sebagai tempat tinggal.

Sumber: BPCB Sumbar

Berita Lainnya

Index