Sengketa Perdana tentang Hak Paten dalam Dunia Penerbangan

Orville dan Wilbur Wright dan Glenn Curtiss (tengah). (Foto:repro "Birdmen" karya Lawrence Goldstone)
Orville dan Wilbur Wright dan Glenn Curtiss (tengah). (Foto:repro "Birdmen" karya Lawrence Goldstone)

Curtiss yang mendapat teguran dari Wilbur, karena tidak membayar lisensi paten yang memang hak Wright secara mata hukum. Namun, teguran itu ia anggap ‘ bunyi kentut’ sampai-sampai pihak Aerial Experiment Association tempat bernaungnya Curtiss juga tidak menanggapinya. Lantas organisasi pelopor penerbangan itu memproduksi tiga unit pesawat hingga mendapatkan hak paten 1911.

Sedangkan Curtiss lebih memilih menjual pesawatnya pada Aeronautic Society of New York, 1909. Tidak ingin ketahuan memakai hak paten Wright bersaudara dengan menempatkan aileron di tengah kedua sisi sayap pesawat.

Bacaan Lainnya

Ide itu dilakukan Curtiss bersama Augustus Herring, pakar penerbangan Octave Chanute yang kemudian keduanya terus berkolaborasi dalam dunia penerbangan, yang mana keduanya merakit pesawat terbang bersayap ganda (biplane-red) yang disebut Gold Flier atau Golden Bug lewat perusahaan Herring-Curtiss Company.

Ambisius Curtiss terhadap dunia penerbangan terus ia gencarkan dengan kembali merebut trofi kedua kalinya dari Scientific American dan tidak main-main pula Curtiss menggelar pertunjukan berbayar di beberapa tempat dengan menerbangkan Golden Bug.

Wilbur dan Curtiss akhirnya benar-benar berkonflik di pengadilan sepulang Curtiss dari Perancis setelah memboyong Piala Gordon Bennett usai mengikuti kejuaraan Le Grande Semaine d’Aviation, akhir Agustus 1909. Upaya hukum di pengadilan tidak mendapat titik temu sampai Wilbur jatuh sakit dan tutup usia pada 1912.

Wafatnya Wright karena terserang demam tifoid dan pengadilan baru berlaku adil dan mengabulkan gugatan setelah sang penemu penerbangan dengan menggunakan mesin dan dikendalikan manusia pertama itu meninggal dan menghadap sang khalik.

Pos terkait