Waspada Erupsi Gunung Merapi, BPPTKG Tetap Lakukan Pemantauan

  • Whatsapp
Penampakan aktivitas Gunung Merapi tanggal 13-19 November 2020 dari CCTV Deles 3 - Badan Geologi/Halonusa
Penampakan aktivitas Gunung Merapi tanggal 13-19 November 2020 dari CCTV Deles 3 - Badan Geologi/Halonusa

HALONUSA.COM – Berdasarkan hasil pengamatan BPPTKG terkait perkembangan aktivitas Gunung Merapi per Sabtu (21/11).

Terjadi guguran dengan jumlah 15, aplitudo 4-7 mm dalam durasi 13-90 detik.

Hembusan terjadi dengan jumlah 23, amplitudo 2-11 mm dalam durasi 10-19 detik.

Sedangkan gempa vulkanik dangkal berjumlah 14 dengan amplitudo yang teramati 40-75mm dalam durasi 14-42 detik.

Baca juga : Pengungsi di Magelang Bertambah, Gunung Merapi Siaga

Kemudian Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi juga melaporkan adanya gemuruh guguran yang terdengar keras sebanyak satu kali dengan amplitudo 75mm pada pukul 8.19 WIB dari Pos Pantau Babadan dan Kaliurang.

Lebih lanjut, BPPTKG juga mengatakan bahwa potensi bahaya saat ini adalah berupa guguran lava dari aktivitas erupsi efusif dan lontaran material vulkanik apabila terjadi letusan eksplosif serta awan panas sejauh maksimal lima kilometer dari puncak kawah.

Baca juga: Sembilan Titik Pengungsian di Merapi, Lansia Perempuan 122 Jiwa

BPPTKG memberikan rekomendasi untuk wilayah KRB III dalam radius lima kilometer dari puncak kawah merapi agar dikosongkan dari segala jenis aktivitas manusia dan tidak boleh ditinggali oleh penduduk.

Agar apabila kemudian Gunung Merapi meletus sewaktu-waktu, maka tidak terjadi korban jiwa maupun kerugian harta benda.

Menurut perkembangan dari tim di lapangan, wilayah yang memiliki potensi risiko terdampak erupsi Gunung Merapi meliputi, Desa Glagaharjo, Desa Kepuharjo dan Desa Umbulharjo di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta.

Pos terkait